Butuh panggilan darurat medis dan non-medis? Call PSC kabupaten Tulungagung di 0355-320119 atau gunakan aplikasi PSC 119 Kabupaten Tulungagung, download di sini

Antara Cangkok Ginjal, CAPD, dan Cuci Darah, Mana yang lebih Baik?

Antara Cangkok Ginjal, CAPD, dan Cuci Darah, Mana yang lebih Baik?

PADA kasus-kasus orang dengan penyakit gagal ginjal kronis (PGK) atau istilah lainnya penyakit gagal ginjal tahap akhir (PGTA) , ada tiga modelitas terapi yang lazim dilakukan dalam dunia medis/ kedokteran. Tiga modelitas itu adalah cangkok atau tranplantasi ginjal, CAPD (Continuous Ambulatory Peritonial Dialysis) atau cuci darah lewat perut pasien, serta HD (Hemodialysis).

Di antara tiga modelitas itu, modelitas terapi cuci darah atau hemodialysis adalah pendekatan penanganan medis yang paling populer. Setidaknya di kalangan awam masyarakat (pasien) yang menghendaki cara instan penanganan kasus gagal ginjal akut yang dideritanya. organ ginjal yang selama ini memiliki peran penting dalam pembuangan racun, kadar garam berlebihan, dan urea (limbah mengandung nitrogen hasil dari metabolisme protein) tiba-tiba gagal berfungsi.

Urea ini yang secara teratur dibawa darah menuju organ ginjal untuk dibuang dalam bentuk urine. namun karena fungsi ginjal yang mendadak drop alias turun drastis, atau bahkan dalam beberapa kasus gagal fungsi sama sekali, kemampuannya dalam mengontrol racun dalam tubuh ikut menurun/hilang. Kadar kreatinin (molekul limbah kimia hasil metabolism otot serta konsumsi daging yang terbentuk dari keratin) meningkat.

Jika pada tubuh pria dewasa normal ada di rentang 0,6-1,2 miligram per desiliter (mg/dl) dan pada wanita dewasa normal di rentang 0,5-1,1 miligram per desiliter (mg/dl), pada kasus penderita gagal ginjal angkanya bisa naik hingga jauh di atasnya. Kadar kreatinin yang tinggi ini menjadi pertanda adanya kerusakan pada organ ginjal.

Kondisi ini secara fisik bisa ditandai dengan munculnya gejala tubuh cepat lelah, lemas, demam tinggi, sakit kepala, sesak nafas, pembengkakan di tubuh tertentu (seperti di lengan, kaki, wajah , perut dan mata), jarang berkemih atau jumlah urine berkurang, kencing darah (kencing berwarna merah pekat seperti teh), nyeri punggung atau pinggang hingga ke penurunan kesadaran atau pingsan.

SIAP MELAYANI: Dari kiri ke kanan, dr. Ashfiyatul Magfiroh, dr. Ahmad Rifai, Sp.PD, dr. Nursamsu, Sp. PD-KGH, dr. Atma Gunawan, Sp.PD-KGH, Direktur RSUD dr. Iskak, dr. Supriyanto, Sp.B, FINACS, M.Kes, dr. Anik Suryani, dr. Rina Melinda, Sp.PD, dr. Renni Widiya Kusumaningtyas, berfoto bersama usai Seminar Awam Transplantasi Ginjal di Hotel Istana, Tulungagung.

Kalau sudah mengalami gejala klinis seperti itu, langkah-langkah kedaruratan medis memang seharusnya segera dilakukan. Periksakan ke dokter yang ahli menangani, supaya cepat dilakukan tindakan medis guna menghindari penderita mengalami kondisi kolaps akibat kadar racun dalam tubuh (darah) yang terlalu tinggi.

Umumnya, dokter yang mendapati pasien dengan kadar kreatinin tinggi dengan melakukan tindakan kedaruratan medis dialysis (cuci darah). Terapi ini bisa dilakukan secara berkala jika kadar kreatinin kembali naik hingga melampaui ambang batas normal yang bisa ditoleransikan. Masalahnya, apakah terapi dialysis ini ideal dan menjadi satu-satunya solusi pada penanganan kasus pasien dengan gagal ginjal kronis seperti digambarkan tersebut? Jawabannya tentu sama sekali tidak. Secara medis, sebagaimana dipaparkan oleh Tim Divisi nefrologi dan hipertensi RSU dr. Saiful anwar malang, dr Ahmad Rifai, Sp.PD, saat menjadi salah satu pemateri acara Seminar awam Tranplantasi Ginjal di Tulungagung pada akhir pekan pertama Januari 2020.

Ia menyatakan, dari tiga modelitas terapi kasus gagal ginjal kronis, yakni cangkok atau tranplantasi ginjal, CaPD dan hD (dialysis), metode yang disebut pertama adalah yang paling baik. Kesimpulan itu mengacu pada data statistik yang membandingkan angka survival dan rasio harapan hidup antara pasien gagal ginjal kronis yang melakukan terapi cangkok, CaPD dan dialysis.

Cangkok ginjal memiliki tingkat harapan hidup tertinggi dengan prosentase mencapai 86 persen untuk rentang survival selama 10 tahun. Sementara CaPD dan dialysis secara berturut memiliki prosentase harapan hidup jauh lebih rendah, yakni sekitar 35 dan 32 persen. Pada rentang waktu 10 tahun itu, angka harapan hidup pasien CaPD sedikit lebih baik ketimbang dialysis karena faktor komorbid (penyakit pemberat) lebih terkendali. Racunnya cenderung stabil.

Tidak ada naik tidak ada turun. flat saja. Pasien lebih bebas makan, namun minumnya harus tetap dibatasi. “Ini dengan catatan pasien tidak memiliki faktor komorbid untuk konsumsi apapun,” kata dr. ahmad Rifai. Coba bandingkan dengan metode dialysis. Cuci darah banyak keterbatasannya, yaitu kondisi kesehatan tubuh yang cenderung naik turun. Tidak stabil. harapannya tentu masih lebih bagus CaPD, dan lebih bagus lagi cangkok ginjal,” katanya.

Merujuk pada data statistik angka harapan hidup pada pasien cangkok ginjal yang jauh lebih panjang itulah, opsi transplantasi (ginjal) lebih direkomendasikan. apalagi dengan kondisi pasien PGK/ PGTa di Jawa Timur yang begitu besar, sementara fasilitas layanan hemodialysis di rumah sakitrumah sakit terbatas.

Di malang Raya atau wilayah Jatim selatan bagian barat saat ini saja, diprediksi kasus PGK/ PGTa mencapai 2.500 orang lebih. Dengan jumlah penderita sebegitu banyak, lanjut dia, unit hemodialisis di RSSa malang maupun rumah sakit-rumah sakit yang memiliki kapasitas dan unit pelayanan cuci darah tetap tidak akan mencukupi.

Di RSSa malang, misalnya, dengan 50 unit sarana hemodialisis dan empat kali shift, pasien cuci darah banyak yang tidak terlayani untuk melakukan cuci darah. Kondisi serupa terjadi di RSUD dr Iskak Tulungagung, dimana dengan 20 unit alat hemodialisis yang ada saat ini, dan kebijakan tiga kali shift (pergantian) 18 alat hemodialisis untuk pasien reguler (dua unit untuk pasien kasus darurat), yang tercatat sudah tertangani baru 162 pasien. Selebihnya ada lebih dari 200 pasien masuk daftar tunggu.

“Untuk pasien (gagal ginjal) nonreguler mungkin lebih banyak lagi. Kami tidak tahu persisnya, karena biasanya ini tersebar di rumah sakit-rumah sakit (swasta) lain di luar RSUD dr Iskak yang juga memiliki fasilitas layanan hemodialisis,” ujar Kepala Unit hemodialisa RSUD dr Iskak, dr Rina melinda, Sp.PD.

Kondisi ini memaksa tim medis rumah sakit, termasuk di RSUD dr Iskak dan RSSa malang, untuk menyarankan pasien baru kasus gagal ginjal agar memilih opsi lain, yakni memasang CaPD (continuous ambilatory peritoneal dialysis) atau tranplantasi ginjal. CaPD merupakan metode cuci darah mandiri dengan memanfaatkan selaput membran dalam rongga perut (peritoneum) pasien sebagai filter alami ketika dilewati zat sisa. (*)

0 Komentar

Alamat

Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo, Kedung Taman, Kedungwaru, Kec. Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur 66223

Telp. (0355) 320119