19 Jun, 2021

Cegah Tercampurnya Pasien COVID-19 dan Non-COVID-19. Beginilah Alur Masuk IGD RSUD dr. Iskak

DI TENGAH tren kasus yang meningkat, isu seolah rumah sakit meng-COVID-kan pasien masih saja berkembang dengan liar di publik. Opini sesat ini tentunya sedikit-banyak mempengaruhi persepsi sebagian masyarakat, sehingga takut berobat ke rumah sakit.

“Namanya sakit itu harus diobati. Jangan sampai sakit tapi takut berobat. Bisa saja ke faskes tingkat 1, dokter pribadi, atau ke faskes yang lebih tinggi (faskes 2 = rumah sakit) jika memang dirasa perlu dan sakitnya serius,” terang Dokter Spesialis Emergency Medik RSUD Dr. Iskak Tulungagung dr. Hari Aditya Nugroho, Sp. EM.

Masyarakat yang sakit tidak perlu takut datang ke RSUD dr. Iskak. Terutama masyarakat yang mengalami gejala penyakit kronis seperti serangan jantung, stroke, kanker, dan lainnya.

”Walau pandemi COVID-19 sudah setahun, namun stigma rumah sakit meng-COVID-kan pasien masih dipercayai sebagian orang,” terang dokter Tito, demikian dr. Hari Aditya Nugroho, Sp. EM biasa disapa.

Imbasnya, ada sebagian warga yang masih enggan berobat ke rumah sakit. Padahal jika seseorang menderita penyakit kronis, namun tak segera mendapatkan pertolongan medis, akibatnya bisa fatal.

”Misalnya saja seseorang terkena serangan jantung, namun takut ke rumah sakit. Kalau sudah kronis tak tertangani medis, bisa berakibat kematian,” ujarnya.

Dokter Tito menjelaskan, alur pasien yang masuk di IGD. Pertama-tama adalah skriningkesehatan. Perawat yang bersiaga menyambut kedatangan setiap pasien di area fast tracck IGD akan bertanya mengenai keluhan yang dialami pasien. Apakah mengalami demam, batuk, sesak nafas dan sebagainya.

Setelah pemeriksaan medis, maka pasien dipindahkan ke sejumlah zona berdasarkan tingkat kedaruratan penyakit yang diderita.

Ada tiga zona pelayanan kegawatdaruratan di IGD RSUD dr. Iskak. Pertama adalah Zona Hijau atau Green Zone. Zona ini digunakan untuk pasien nongawat nondarurat.

Kedua adalah Zona Kuning atau Yellow Zone. Zona ini disediakan untuk pasien yang memerlukan observasi maksimal enam (6) jam.

Dan ketiga adalah Zona Merah atau  Red Zone. Ruang khusus dengan perangkat pendukung modern untuk pasien kegawatdaruratan dengan prioritas tertinggi, yang memerlukan intervensi dengan segera untuk menyelamatkan nyawa pasien.

Semua tenaga kesehatan (nakes) di IGD memakai APD (Alat Pelindung Diri) level tiga, dengan tujuan untuk mencegah sekaligus melindungi risiko penularan penyakit, dari pasien ke nakes ataupun sebaliknya. ”Setelah pasien masuk ke sejumlah zona tadi, dokter melakukan pemeriksaan lebih lanjut, hingga pemeriksaan laboratorium,” kata dokter Tito.

Setelah itu, pasien akan menjalani swab PCR (Polymerase Chain Reaction) untuk mengetahui positif COVID-19 atau negatif.

Mengenai pasien korban kecelakaan lalu lintas dan sebagainya, dokter di IGD akan memeriksa kondisi korban. Jika sudah parah, maka dilakukan tindakan operasi di ruang khusus operasi COVID-19 tanpa melakukan tes swab PCR terlebih dahulu.

Kalau kemudian beredar rumor kasus korban kecelakaan lalu lintas tapi begitu masuk RSUD di-COVID-kan setelah masuk di rumah sakit, hal itu tentunya harus dibuktikan secara valid. ”Kami selalu memberikan hasil tes swab yang positif atau negatif kepada keluarga” tegasnya.

Selama ini, kata dr. Tito, tidak ada pasien atau keluarga pasien yang menolak untuk tes swab PCR. Hal ini dikarenakan pemeriksaan ini sebagai ikhtiar agar yang positif COVID-19 bisa tertangani dan tak menularkan kepada lainnya.

Pasien yang positif COVID-19 dengan penyakit penyerta yang kronis, maka menempati ruang isolasi intensif. Sementara pasien yang positif tanpa gejala, bisa menjalani karantina di Rusunawa IAIN Tulungagung dan asrama tenaga medis RSUD dr. Iskak.

Proses penyembuhan dengan diberikan obat-obatan penangkal virus. Biasanya isolasi sampai 10 hari, pasien yang tak memiliki penyakit penyerta, maka bisa lekas sembuh. ”Jika hasil tes swab setelah isolasi negatif, maka pasien boleh pulang,”  ujarnya.

IGD RSUD dr. Iskak buka 24 jam. Terdapat 20 dokter umum, sementara total perawatnya sejumlah 75 tenaga. Selain terdapat sejumlah rungan zonasi, seperti zona hijau, kuning, dan merah, IGD RSUD dr. Iskak juga memiliki ruangan bagi penderita penyakit asma, kamar operasi khusus COVID-19, ruang transit intensif bagi pasien yang emergency yang menunggu hasil swab PCR, ruang catch lab untuk pemasangan ring jantung. (PKRS/MAS)

Berita Terkait

Berita Terbaru

Polling

Apakah website ini bermanfaat untuk Anda?