Butuh panggilan darurat medis dan non-medis? Call PSC kabupaten Tulungagung di 0355-320119 atau gunakan aplikasi PSC 119 Kabupaten Tulungagung, download di sini

COLEK! Langkah Sederhana Merawat Luka Diabetes

COLEK! Langkah Sederhana Merawat Luka Diabetes

MENJAGA kebersihan, kelembaban serta menghindari tempat yang kotor (tidak steril) menjadi kunci utama dalam proses perawatan mandiri pada luka penderita diabetes melitus agar terhindar dari infeksi.  Hal ini penting diperhatikan agar pasien tidak mengalami infeksi pada stadium lanjut.

Proses perawatan luka pada pasien penderita diabetes pada dasarnya harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Sebab jika luka tersebut tidak dijaga kebersihannya, tidak dijaga sterilitas lingkungan perawatannya, maka hal itu justru dapat meningkatkan risiko kerusakan jaringan lebih parah yang dapat mengakibatkan infeksi dan komplikasi.

Kondisi tersebut bisa terjadi karena pada dasarnya penderita diabetes mudah terkena infeksi, akibat sistem kekebalan tubuhnya tidak bisa stabil (acapkali menurun akibat kadar gula tubuh yang cenderung selalu tinggi). Proses penyembuhan luka pada kasus diabetes biasanya juga lama. Namun berbeda halnya apabila luka diabetes dirawat dengan benar dan baik, maka dimungkinkan bisa risiko kerusakan jaringan saraf bisa dicegah.

Perawat Ruang Bedah RSUD Iskak Tulungagung Gunawan Wicaksono, S. Kep. Ners menjelaskan, luka pada kasus-kasus diabetes dibedakan dalam dua jenis, yakni luka bersih dan luka kotor. Kondisi luka ini mempengaruhi penatalaksanaan perawatan.

Pada kasus luka bersih, biasanya penanganannya lebih mudah. Perawataan dengan tindakan post laparotomi atau incisi pada px penderita diabet. Dengan penanganan yang baik, biasanya dalam kurun waktu 7-10 hari, dibantu dengan asupan nutrisi yang bagus, maka luka akan menutup dengan baik. “Normalnya begitu,” katanya.

Berbeda halnya dengan luka kotor, dimana jika terjadi/ada luka dan perawatan tidak maksimal, maka hal ini akan berisiko terjadinya gangrene. Yakni kondisi jaringan tubuh menjadi mati akibat tidak mendapat pasokan darah yang cukup atau akibat infeksi bakteri yang berat. Kalau sudah begitu, perawatan harus kontinyu, spesifik dan terukur. “Karena kalau tidak, akan menimbulkan kematian-kematian jaringan jika tidak ditangani serius,” ujar perawat di ruang irna Cempaka ini.

Dalam proses perawatan luka diabetes ini pasien tidak dianjurkan melakukannya sendiri sebelum mengetahui (mengenali) seberapa besar derajat luka yang dideritanya.

Sangat penting mengetahui derajat luka terlebih dahulu pada penderita diabetes. Sebab dengan pemahaman yang baik atas kondisi klinis pasien diabetes akan membantu pasien itu sendiri (atau yang merawatnya) untuk menghindari risiko infeksi lebih lanjut, sekaligus menentukan tata laksana perawatan yang benar sesuai dengan anjuran dokter.

“Pasien dengan diabetes itu sangat sensitif, rentan mengalami luka. Oleh karena itu, penting bagi mereka untuk mendapat informasi awal yang cukup, sebelum melakukan perawatan sesuai dengan kondisi lukanya. Caranya, ya harus berkonsultasi dengan dokter lebih dulu, dan selanjutnya tinggal mengikuti sesuai anjuran (dokter),” katanya.

Gunawan menjelaskan,ada beberapa literatur menurut para ahli tentang  derajat luka diabetes (luka kotor) diklasifikasikan mulai derajat 0 hingga derajat 5. Penatalaksanaan pada perawatannya pun berbeda. Harus menyesuaikan derajat luka itu sendiri. Berikut urutan derajat luka diabetes:

  • Derajat 0-1. Artinya belum terdapat luka tetapi kulit mati rasa atau hilangnya perabaan.
  • Derajat 2-3. Kondisi kulit terluka namun fungsi jaringan baik.
  • Derajat 4-5. Kondisi luka diabetes dengan tanda tanda jaringan mati.

Kalau lukanya sederhana, perawatan bisa saja dilakukan di rumah tapi dengan catatan prinsip-prinsip steril dan kompeten wajib di perhatikan. Akan tetapi jika luka itu sudah di stadium 3 atau di atasnya (3-5), sebaiknya pasien segera dibawa ke pelayanan kesehatan terdekat, agar tidak terlambat. Sampai di sini, perawatan yang memungkinkan ditangani secara mandiri adalah pasien dengan luka dengan derajat 0-3. Sedangkan derajat di atasnya (4-5), luka yang dialami penderita diabetes masuk kategori sudah parah. Harus ditangani langsung oleh dokter ahli (spesialis dalam dan spesialis bedah untuk mengantisipasi supaya tidak terjadi komplikasi.)

“Luka kotor dengan derajat 1 itu biasanya penyembuhannya cepat. Beda dengan luka kotor dengan derajat 2-3 yang biasanya lama. Apalagi derajat lima. Kalau dengan perawatan luka maksimal tidak bisa membaik, mungkin alternatif pertama yang diusulkan adalah untuk dilakukan debridement, yakni perawatan/pembersihan luka di kamar operasi,” tutur pria yang selalu tampil enerjik ini.

Akan tetapi jika debridement 1 dan 2 kondisi tidak kunjung membaik juga, tindakan medis selanjutnya (terakhir) yang terbaik direkomendasikan dokter biasanya adalah operasi amputasi. Misal amputasi jari atau amputasi kaki. Tindakan ini dilakukan hanya apabila indikasi infeksinya parah sehingga sel-sel mati. Atau dimungkinkan terjadi sepsis, yakni infeksi menyebar ke seluruh tubuh melalui pembuluh darah.

Khusus untuk perawatan mandiri pasien diabetes ini, RSUD dr. Iskak Tulungagung punya akronim sederhana sebagai pengingat, yakni akronim “COLEK“. Huruf C pada kata COLEK ini terkandung pesan Cuci Bersih. Sedang huruf O pada akronim yang sama adalah singkatan dari Obati, LE berarti lembabkan, dan terakhir akhiran K yang artinya kebersihan.

Dengan demikian akronim COLEK ini lebih bersifat rumusan protokol tindakan yang bisa dilakukan dalam perawatan luka diabetes, yakni harus selalu mencuci bagian tubuh yang terdapat luka dengan cairan antiseptic atau pencuci luka (NaCL 0.9%) supaya bersih. Sesuai petunjuk dokter luka diobati dengan salep dan penggunaan dressing pada bagian luka dengan tujuan kondisi luka lembab, untuk membantu proses penyembuhan luka, katanya

Terakhir yang tak kalah penting adalah pemberian asupan nutrisi bagi penderita diabetes. Tahapan ini tentunya harus konsultasi ke ahli gizi, karena tindakan perawatan atau penanganan medis apapun jika tidak diimbangi dengan pemberian asupan yang tepat dan terukur, penyakit gula darah ini akan sulit disembuhkan. Apalagi jika sampai terjadi komplikasi.

“Harus mempertimbangkan diet yang tepat dengan mempertimbangkan berat badan pasien, serta hasil pemeriksaan beberapa laboratorium yang menunjang untuk perbaikan kondisi pasien pada umumnya,” papar penggiat PKRS RSUD dr. Iskak yang murah senyum ini.

Sampai di sini, pesan yang ingin disampaikan adalah, perawatan pada luka pasien diabet tidak bisa disamaratakan. Harus bisa melihat kondisi derajat luka yang dialami, apakah itu luka bersih atau luka kotor. Karena hal tersebut akan mempengaruhi pemilihan treatment yang tepat untuk mencegah komplikasi lebih lanjut.
(PKRS)

0 Komentar

Alamat

Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo, Kedung Taman, Kedungwaru, Kec. Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur 66223

Telp. (0355) 320119