Demi Keselamatan, Biarkan Anak-anak Belajar dan Bermain di Rumah Saja

Demi Keselamatan, Biarkan Anak-anak Belajar dan Bermain di Rumah Saja

LONJAKAN angka kasus COVID-19 terhadap anak-anak terjadi pada gelombang dua pandemi tahun 2021 ini. Sebelumnya, beredar anggapan bahwa anak-anak kebal terhadap Corona, sehingga membuat orang tua mengendurkan perlindungan kepada anak dari virus ini.

Kenyataannya sekarang, baik anak-anak atau orang dewasa menjadi kelompok yang sama-sama rentan terpapar COVID-19.

Dokter Spesialis Anak RSUD dr. Iskak dr Novi Evridayanti, Sp. A mengatakan, berdasarkan data dari IDAI (Ikatan Dokter Anak Indonesia) pada awal Bulan Juli 2021 lalu, kematian anak akibat COVID-19 di Indonesia merupakan tertinggi di dunia.

”Kesimpulannya, yakni tingkat kematian atau case fatallity pada anak mencapai 3-5 persen, ini cukup besar,” terang Dokter Novi saat menjadi narasumber dalam acara kesehatan yang disiarkan di Radio Perkasa FM, pada Selasa, 27 Juli 2021.

Dari data tersebut menunjukkan proporsi kasus konfirmasi positif COVID-19 pada anak usia 0 – 18 tahun mencapai 12,5 persen.

Untuk itu, dr. Novi mengimbau agar seluruh kegiatan yang melibatkan anak usia 0 – 18 tahun dilakukan secara daring, seperti kegiatan pendidikan atau sekolah.

Upaya-upaya perlindungan pada anak yang harus dilakukan orang tua sebagai berikut:

  • Semua jenis kegiatan untuk anak, hanya boleh di rumah, sementara untuk pendidikan hanya daring maupun luring
  • Orang tua yang sakit tidak diimbau untuk berdekatan dengan anak untuk menghindari penularan
  • Jika terpaksa keluar rumah karena kondisi yang mendesak, anak harus dijaga agar tidak kontak langsung dengan pasien COVID-19, serta menghindari area dengan ventilasi tertutup.
  • Memakai masker, menjaga jarak, mencuci tangan dan lainnya

Dokter Novi menjelaskan, sejumlah syarat anak menjalani isolasi mandiri, yakni anak yang tanpa gejala (asimptomatik), anak yang aktif bisa tetap makan dan minum, pemeriksaan suhu tubuh dua kali sehari (pagi dan malam), ruangan kamar harus memiliki ventilasi yang baik.

Sedangkan anak yang bergejala ringan seperti batuk, pilek, demam, muntah. Selama isoman, orang tua bisa mendampingi si anak, yakni dengan mengenakan masker.

Orang tua juga bisa menghitung laju nafas anak. Hal ini bertujuan apakah laju nafasnya normal atau tidak.

Dokter Novi memberikan langkah-langkah menghitung laju nafas anak, sebagai berikut:

  1. Menghitung laju nafas bisa dilakukan saat anak sedang tenang, misalnya saat tidur.
  2. Lihat dada anak dan hitung setiap gerakan napasnya selama satu menit.
  3. Untuk anak di bawah 2 bulan, batasnya adalah 60 kali napas per menit.
  4. Sedangkan anak usia 2 bulan hingga 12 bulan atau 1 tahun tak boleh lebih dari 50 kali per menit
  5. Anak usia 1-5 tahun tak boleh lebih dari 40 kali per menit.
  6. Perhitungan itu sebaiknya dilakukan tiga kali sehari, yaitu pagi, siang, dan malam.

Sementara itu, prosedur untuk isoman pada anak hampir sama dengan orang dewasa. Isoman bisa dilakukan 10 hari dihitung sejak terkonfirmasi positif. Selanjutnya, usai 10 hari masa isoman, ditambah 3 hari tanpa gejala.

”Totalnya bisa 14 hari, isoman anak akan dievaluasi ulang dengan tes swab PCR (Polymerase Chain Reaction),” kata dokter Novi. Dia menambahkan, sebelum isoman, orang tua dianjurkan melaporkan ke Satgas COVID-19 setempat, agar mendapatkan pemantauan dari tenaga kesehatan. (PKRS/MAS)

Alamat

Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo, Kedung Taman, Kedungwaru, Kec. Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur 66223

Telp. (0355) 320119