Butuh panggilan darurat medis dan non-medis? Call PSC kabupaten Tulungagung di 0355-320119 atau gunakan aplikasi PSC 119 Kabupaten Tulungagung, download di sini

Gangguan Pembekuan Darah atau Hemofilia. Bagaimana Cara Mengatasinya?

Gangguan Pembekuan Darah atau Hemofilia. Bagaimana Cara Mengatasinya?

BAGI penderita hemofilia nampaknya harus lebih berhati-hati dalam segala aktivitas hidupnya, terutama menjaga seluruh tubuhnya dari hal-hal yang dapat mengakibatkan goresan.

 Jika sedikit saja bagian tubuhnya tergores oleh benda tajam dan terluka, maka akan terjadi pendarahan yang cukup membahayakan nyawanya.

Hemofilia merupakan gangguan pembekukan darah akibat mutasi kelainan genetik atau keturunan. Mutasi genetik ini menyebabkan darah kekurangan protein yang berfungsi untuk faktor pembekuan darah.  Kekurangan ini bakal menyebabkan darah sukar membeku.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSUD dr. Iskak, dr. Moh. Jasin, Sp. PD menjelaskan, terjadinya pendarahan pada penderita hemofilia itu berawal dari pembekuan darah yang mengalami komplikasi.

“Pada saat seseorang mengalami pendarahan, maka terjadi waktu pemanjangan pendarahan sehingga pembekuannya mengalami komplikasi sampai bengkak. Luka tersebut bisa terus mengeluarkan darah,” kata dokter Jasin saat menjadi narasumber acara talk show interaktif yang dihelat oleh PKRS (Promosi Kesehatan Rumah Sakit) RSUD dr. Iskak, Kamis, 15 April 2021.

Pendarahan yang paling berat terjadi adalah pendarahan hematoma atau hemostasis di bagian persendian maupun area otak.

“Penderita biasanya mengalami pendarahan di area luka. Darah akan terus mengalir meskipun mengalami kecelakaan ringan seperti memar atau tergores benda tajam. Contohnya, proses khitanan pada anak,” paparnya.

Menurut dr. Jasin, terdapat tiga faktor utama untuk mempengaruhi pendarahan yang mengalami pemanjangan, di antaranya;

  1. Faktor pembuluh darah, ketika terjadi pendarahan awalnya pembuluh darah akan mengalami pengerutan.
  2. Faktor berkumpulnya trombosit yang membentuk sumbatan sehingga pendarahan dapat ditutup oleh kumpulan trombosit tersebut.
  3. Faktor pembekuan yang menentukan lama atau tidaknya proses pendarahan.

“Itulah faktor yang mempengaruhi lamanya proses pendarahan. Umumnya, durasi pembekuan penderita hemofilia bisa berlangsung selama dua menit lebih. Sedangkan untuk pendarahan normal hanya dua menitan,” jelasnya.

Dokter Jasin kemudian mencontohkan kasus pendarahan yang terus berlangsung selama kurang lebih dua menit pada anak yang menjalani khitan. Menurutnya, kondisi itu bisa terjadi karena si bocah yang menjalani khitan mengidap hemofilia.

Menyambung penjelasan dr. Jasin, Dokter Spesialis Anak RSUD dr Iskak, dr. Herlin Kristanti, Sp.A mengatakan, kejadian hemofilia pada anak dapat diatasi dengan berpedoman pada RICE. Yakni Rest, Ice, Compression dan Elevation.

Penjelasannya, “R” atau Rest artinya jika seseorang mengalami pendarahan, tubuhnya harus segera diistirahatkan. Sedangkan “I” atau Ice artinya mengompres di bagian luka dengan es.

Langkah selanjutnya, C-Compression yakni menekan area luka.  Tindakan E-Elevation artinya meninggikan bagian yang mengalami cedera yang melebihi ketinggian jantung sehingga dapat membantu mendorong cairan keluar dari daerah pembengkakan tersebut.

“Pedoman RICE ini sebagai langkah darurat untuk menanggulangi terjadinya pendarahan di rumah. Jika pendarahan berlanjut supaya di larikan ke rumah sakit terdekat,” tuturnya.

Umumnya, penderita hemofilia didominasi oleh jenis kelamin laki-laki berasal dari genetik atau keturunan orang tua yang sebelumnya mempunyai penyakit tersebut. “Artinya penderita hemofilia itu diturunkan oleh laki laki.  Sementara ibunya akan menjadi seorang carrier atau gen yang bermutasi kemudian bisa menurunkan ke anaknya sendiri,” tutupnya. (PKRS/MFW)

Alamat

Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo, Kedung Taman, Kedungwaru, Kec. Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur 66223

Telp. (0355) 320119