Butuh panggilan darurat medis dan non-medis? Call PSC kabupaten Tulungagung di 0355-320119 atau gunakan aplikasi PSC 119 Kabupaten Tulungagung, download di sini

Hand Sanitizer atau Sabun. Mana Yang Lebih Baik?

Hand Sanitizer atau Sabun. Mana Yang Lebih Baik?

MUNCULNYA efek samping penggunaan hand sanitizer telah memantik diskusi tentang standar keamanan bahan kimia ini terhadap kesehatan kulit pemakainya.

Kendati pun banyak kasus dialami oleh orang yang memang memiliki latar belakang masalah kulit (kulit sensitif), banyak kalangan kemudian memperbandingkan cairan praktis pembersih tangan berbahan alkohol ini dengan air dan sabun cuci piring ataupun sabun mandi yang dianggap lebih ramah terhadap risiko kulit iritasi.

Dokter spesialis kulit dan kecantikan RSUD dr. Iskak, dr. Sekar Puspita Lokasari, Sp. KK memberikan ulasannya tersendiri tentang penggunaan sabun plus air mengalir dan cairan hand sanitizer yang kini sedang populer di masyarakat sebagai “senjata” melawan (virus) corona baru.

Menurut dia, kedua sarana pembersih tangan ini sama-sama memiliki keunggulan dan kelemahan, terutama dalam hal menetralisir telapak tangan dari segala jenis bakteri/virus ataupun partikel kotoran.

Cairan hand sanitizer atau HZ, misalnya. Cairan ini memiliki keunggulan utama, mudah dan praktis  digunakan.

Bisa dikemas dalam wadah dengan kapasitas berbagai ukuran, HZ memberikan keamanan dan “penyamanan” baru bagi penggunanya dari risiko penularan virus dan bakteri, khususnya di era pandemi COVID-19.

“Akan tetapi, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir masih lebih baik dibanding hand sanitizer dengan pertimbangan kesehatan kulit,” kata dr. Sekar memberikan penekanan.

Ia menjelaskan, hand sanitizer mengandung alkohol dengan akdar tertentu yang bisa merusak sel-sel kulit. Terutama bagi mereka yang memiliki latar belakang kulit sensitif. “Beda halnya dengan penggunaan sabun yang dibasuhkan bersama air mengalir,” katanya.

Kepada pasien-pasiennya yang memiliki permasalahan kulit (sensitif), dr. Sekar bahkan tidak mengizinkan penggunaan hand sanitizer untuk mensterilisasi telapak tangan dari aneka kuman dan bakteri, termasuk potensi paparan virus corona.

Alasannya, supaya permasalahan kulit kering yang dialami tidak berlanjut. Apalagi jika sudah terjadi pecah-pecah yang disertai iritasi. “Kalau (kulit) sensitif hand sanitizer, maka solusinya minimal cuci tangan pakai sabun dan air mengalir,” katanya.

Namun jika karena situasi dan kondisi memaksa kita untuk (harus) menggunakan hand sanitizer, dr. Sekar menyarankan untuk menggunakan pelembab guna melindungi kulit dari risiko iritasi dan pecah-pecah.

“Dan untuk diketahui, pelembab yang aman untuk kuit sensitif itu adalah yang berbentuk cream atau oil, karena produk dengan kadar alkohol tertentu ini biasanya tidak mengandung pewangi. Pelembab jenis ini juga dan tidak mengandung pemutih, sehingga aman untuk kulit,” terangnya.

Tapi bukannya hand sanitizer itu penting dalam situasi pandemi seperti sekarang? Ya, tentu saja HZ penting. Bahkan vital sebagai penangkal virus.

Dokter Sekar mengingatkan bahwa “senjata” andalan untuk pertahanan diri yang kerap kita gunakan dalam berbagai aktivitas di era COVID-19 ini juga memiliki faktor risiko ikutan, khususnya dalam hal kesehatan kulit penggunanya.

“Bagaimanapun hand sanitizer hari ini sangat penting. Tapi harus diingat ya, cairan pembersih praktis itu dibuat berbasis alkohol dengan kadar tertentu yang sudah ditetapkan Badan POM (Pengawas Obat dan Makanan),” tegasnya.

Ada dua jenis produk hand sanitizer yang biasa ditemukan di lapangan. Ada yang berbentuk cair (encer) dan ada yang berbentuk gel. Dari kedua jenis produk HZ itu, dr. Sekar menyatakan baik yang cair maupun yang gel sama-sama bisa menyebabkan iritasi pada kulit penggunanya.

Namun tingkat risiko atau kadarnya masih lebih tinggi yang gel. Sebab, kadar alkohol  pada produk HZ jenis ini biasanya lebih tinggi. Berbeda dengan HZ cair yang biasanya mengandung campuran air (H2O) lebih banyak.

Hal yang perlu ditekankan lagi adalah upaya pertolongan pertama saat terjadi situasi kulit tangan alami iritasi yg ditandai kulit kering dan bahkan ngglodok-ngglodog, seperti pemberian pelembab saat terjadi kulit kering, dan selanjutnya adalah pemeriksaan ke poli kulit.

“Apabila sudah diberi pelembab namun iritasi (kulit) masih berlanjut hingga 2-3 hari, lalu terjadi infeksi kulit yang ditandai dengan bintik kemerahan, maka situasi itu harus segera diperiksakan ke dokter spesialis kulit agar cepat mendapat penanganan yang tepat,” kata dr. Sekar.

Warga yang memiliki permasalahan kulit seperti iritasi atau bahkan infeksi akibat hand sanitizer juga bisa memanfaatkan layanan di Poli Kulit RSUD dr.Iskak. Terutama  pada jam-jam kerja pelayanan, Poli Kulit RSUD dr. Iskak buka setiap hari, mulai Senin hingga Jumat. Atau bisa juga ke Poli Estetik untuk mendapat pelayanan kecantikan.

Di poli kulit, selain mengobati yang luka juga melayani urusan kecantikan. Sedangkan Poli Eksekutif di Graha Hita Husada RSUD dr. Iskak layanan dibuka pada hari Senin, Selasa , dan Jumat. Proses pendaftaran bisa pakai sistem online, sms/wa di nomor 082333553066 atau menggunakan aplikasi Si-Poetri, yang jika belum punya aplikasinya bisa di-download di play store. (PKRS/MDS)

0 Komentar

Alamat

Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo, Kedung Taman, Kedungwaru, Kec. Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur 66223

Telp. (0355) 320119