Butuh panggilan darurat medis dan non-medis? Call PSC kabupaten Tulungagung di 0355-320119 atau gunakan aplikasi PSC 119 Kabupaten Tulungagung, download di sini

HUT RSUD dr. Iskak Ke 103 Di Masa Pandemi

HUT RSUD dr. Iskak Ke 103 Di Masa Pandemi

Civitas hospitalia RSUD dr. Iskak Tulungagung, Senin 09-11-2020 RSUD dr Iskak merayakan Hari Ulang Tahun ke-103, rumah sakit plat merah ini dengan ritual sederhana memulai acara dengan ziarah ke makam dr. Iskak. Seorang dokter pribumi yang merintis layanan perumahsakitan modern di Bumi Banarawa, hingga akhir masa perjuangan dan awal masa kemerdekaan.

Dipimpin langsung oleh Direktur RSUD dr. Iskak saat ini, dr. Supriyanto Dharmoredjo, Sp.B, FINACS, M.Kes yang tampil didampingi istri, dr Anik Suryani serta kalangan management, kegiatan dimulai dengan melakukan tabur bunga di atas pusara almarhum dr. Iskak yang meninggal pada 29 Oktober 1979 tersebut. Turut hadir dalam ritual ziarah itu keponakan almarhum dr Iskak, Sri Kresnawati mewakili keluarga almarhum.

Ritual ziarah dilakukan pada 9 November, tanggal yang disepakati sebagai hari/tanggal lahir RSUD dr. Iskak Tulungagung. Penetapan hari dan tanggal ulang tahun itu sendiri mengacu pada momentum keberangkatan dr. Iskak bersama yang bergabung dalam Resimen Kediri, menuju medan pertempuran di Patemon, Surabaya pada 9 November 1945.

Sejarah Berdirinya RSUD dr. Iskak

Pada 9 November 2020 ini, RSUD dr Iskak Tulungagung tepat menginjak usia 103 tahun. Rumah sakit daerah milik Pemkab Tulungagung tercatat lahir pada 1917. Tahun kelahiran ini mengacu keluarnya izin dari Inspektur Kesehatan Kolonial Belanda di Surabaya saat itu, untuk pendirian rumah sakit atau semacam klinik pengobatan di Tulungagung.

Berpegang izin itu, klinik pengobatan pun dibentuk/didirikan. Namanya, Rumah Sakit Pemerintah Belanda di Tulungagung. Satu-satunya unit layanan kesehatan masyarakat yang berlokasi di jalan Pahlawan, Kota Tulungagung. Lokasi ini sekarang digunakan oleh Dinas Kesehatan Tulungagung, dengan dr, Soeleman (dokter lulusan dari Belanda) diangkat menjadi pemimpin pertama rumah sakit itu.

Meskipun kondisi rumah sakit masih sederhana, namun dapat menangani pasien yang terkena musibah dengan pengobatan seadanya.

Dalam melaksanakan tugas sehari-hari dr. Soeleman dibantu oleh dr. Vaers, dokter berkebangsaan Belanda.

Pada tahun 1928, dr. Vaers diangkat sebagai pimpinan rumah sakit setelah dr. Soeleman dipindahkan ke Jakarta. Jabatan tersebut diemban sampai akhir hayatnya ditahun 1939. Kemudian pimpinan rumah sakit berganti menjadi dr. Roestam.

Dr. Iskak sendiri baru diangkat sebagai direktur pada akhir Desember 1948, melalui surat keputusan yang dikeluarkan Bupati Toeloengagoeng saat itu, R. Moechtar Prabu Mangkunegoro.

Dr. Iskak adalah dokter kelahiran Tulungagung yang merupakan lulusan Sekolah Tinggi Kedokteran Jakarta.

Ketika Agresi Militer Belanda tahun 1948-1949 Tulungagung termasuk dalam wilayah yang diduduki oleh Belanda, seluruh pasien dan pegawai rumah sakit beserta keluarganya diungsikan keluar kota.

Selama tahun 1949, lokasi rumah sakit berpindah sebanyak sembilan kali dan akhirnya menetap di dekat Pantai Sine.

Dan setelah tercapai perdamaian dengan Belanda pada akhir tahun 1949, lokasi rumah sakit akhirnya dikembalikan ke wilayah kota di Tulungagung.

*

Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, dimana HUT RSUD dr. Iskak yang selalu diperingati dengan meriah dan dipenuhi lomba-lomba. Di masa pandemi COVID-19 saat ini, perayaan ulang tahun digelar sederhana saja dengan tetap patuh pada protokol kesehatan.

Sama sekali tak ada upacara besar-besaran di lapangan parkir seperti dulu. Tidak ada acara lomba-lomba yang gegap-gempita, pun tak ada pesta yang berlebih. Semua dilakukan serba sederhana. Salah satunya, dengan menziarahi makam dr. Iskak dan dilanjutkan dengan khotmil qur’an dan doa bersama untuk mengenang dan mendoakan almarhum yang namanya diabadikan sebagai nama rumah sakit serta para pejuang kesehatan lain di rumah sakit dr iskak.

Direkrut RSUD dr. Iskak, Supriyanto menuturkan, ada makna dibalik peringatan HUT yang sederhana. Dengan ziarah kali ini, selain mendo’akan almarhum dr. Iskak juga mengenang dokter yang telah meletakkan dasar perumahsakitan modern di Tulungagung.

“Kita ingin meneladani beliau (dr.Iskak). Agara semangat kita selalu terpupuk kembali dalam melayani masyarakat,” ujarnya.
Supriyanto menjelaskan, di masa Dokter Iskak hidup, pelayanan masyarakat lebih susah dibanding sekarang. Penyebabnya, sarana-prasarana kala itu memang masih sangat terbatas.

Dan hingga peringatan HUT kali ini, sudah banyak prestasi yang dicapai. Misal pada tahun 2019, RSUD dr. Iskak berhasil dinobatkan sebagai RS terbaik di Indonesia oleh Kementerian PAN dan Reformasi Birokrasi Republik Indonesia, versi BPJS Kesehatan, dan versi MARKPLUS Hermawan Kertajaya.

Prestasi itu ditambah dengan penobatan RSUD dr. Iskak sebagai rumah sakit terbaik dunia pada kongres International Hospital Federation, November 2019. “Lalu dipilihlah RSUD dr. Iskak ini sebagai rumah sakit terbaik di dunia dalam hal value penyelenggaraan rumah sakit,” ujarnya.
Value yang dimaksud adalah pelayanan kesehatan terhadap masyarakat. Masyarakat tak perlu takut lagi berobat ke rumah sakit, kendatipun tak mempunyai biaya.

Supriyanto menambahkan, kerja keras yang dilakukan oleh pihaknya bukan semata mengejar penghargaan sebagai rumah sakit terbaik, namun untuk pengakuan dari masyarakat terkait pelayanan kepada masyarakat.
Anggota keluarga almarhum dr. Iskak, Sri Kresnawati, mengapresiasi perkembangan RSUD dr. Iskak sebagai rumah sakit terbaik. Apalagi ditengah pandemi COVID-19 ini, menjadi garda terdepan penanganan COVID-19. “Semoga RSUD dr. Iskak menjadi lebih berkembang,” ujarnya.

Riwayat dan Peran dr. Iskak

Dr. Iskak lahir di Tulungagung pada 19 April 1913. Iskak merupakan putra kedua (dari empat bersaudara) pasangan Moenandar dengan Askamah. Namun sejak kecil Iskak diasuh oleh kakak ayahnya, Abdoel Moentalib yang tidak memiliki putra kandung.

Iskak memilih Sekolah Tinggi Kedokteran di Jakarta. Dia berhak menyandang gelar dokter sejak Agustus 1943. Atau saat berusia sekitar 30 tahun. Begitu lulus bekerja di bagian interne RSUP Jakarta hingga Oktober 1943. Dr Iskak sering berpindah tugas.

Pada November 1943 hingga Agustus 1945, ia pindah kerja di Rumah Sakit Tentara Jepang (Rikugun Byoin) Magelang. Di rumah sakit itu hanya ada dua dokter yang orang Indonesia, yakni dr. Iskak dan dr. Harjono. Lainnya merupakan dokter asal Jepang. Maklum, saat itu Indonesia sedang dijajah Jepang.

Berkecamuknya perang kemerdekaan menggugah jiwa nasionalisme Iskak muda. Bersama pemuda Indonesia lain, dr. Iskak ikut berperang mengusir Jepang dari bumi Indonesia.

Hingga akhirnya Soekarno-Hatta mendeklarasikan kemerdekaan Indonesia pada Agustus 1945. Setelah Indonesia merdeka, dr. Iskak bekerja di lingkungan kemiliteran, ABRI dengan pangkat Mayor Kesehatan. Pada September 1945, dr. Iskak bertugas di Tulungagung.

Pertempuran Surabaya juga diikuti dr Iskak. Saat itu dirinya bersama pasukan yang dipimpin Mayor Singgih, bagian dari Resimen Kediri di bawah komando Kolonel R. Soerachmad, mendapat tugas untuk menghadapi ultimatum pasukan sekutu.

Pasukan berangkat pada 9 November 1945. Mereka bertempur di seputar Petemon, Surabaya. Pertempuran Surabaya yang kemudian dikenal sebagai Hari Pahlawan dimenangkan RI.

Usai pertempuran yang heroik itu, dr Iskak dipindahkan ke Resimen 16/Kediri. Dan sesuai bidangnya, dr Iskak bekerja sebagai dokter di resimen tersebut. Tepatnya menjabat wakil Kepala Kesehatan Resimen 16/Kediri.
(MJP)

0 Komentar

Alamat

Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo, Kedung Taman, Kedungwaru, Kec. Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur 66223

Telp. (0355) 320119