Butuh panggilan darurat medis dan non-medis? Call PSC kabupaten Tulungagung di 0355-320119 atau gunakan aplikasi PSC 119 Kabupaten Tulungagung, download di sini

Jangan Anggap Remeh Gejala Pikun, Kenali Caranya Supaya Tidak Cepat Pikun

Jangan Anggap Remeh Gejala Pikun, Kenali Caranya Supaya Tidak Cepat Pikun

PIKUN merupakan sindrom atau kumpulan gejala seseorang dimana kondisinya mengalami perubahan perilaku seperti sering mengalami lupa meskipun dalam keadaan sadar ataupun sedang beraktivitas. Berkurangnya kemampuan intelektual seperti daya ingat, daya berpikir, kemampuan berhitung tentu sangat mengganggu dalam kehidupan sehari-hari.

Secara umum, pikun atau demensia ini selalu diidentikkan dengan gejala sakit biasa (normal) yang dialami seseorang lanjut usia (lansia). Akan tetapi, tidak menutup kemungkinan hal ini bisa jadi menyerang orang dewasa.

Karena dianggap sebagai gejala penyakit biasa, tidak banyak orang yang melakukan pemeriksaan medis atupun pengobatan khusus untuk mengatasi hal ini. Biasanya mereka datang dengan keluhan fisik lain yang disertai dengan adanya gejala pikun. Padahal bila gejala pikun ini dibiarkan begitu saja dari waktu ke waktu, kondisinya bisa bertambah berat.

“Pikun atau demensia itu terjadi karena adanya ganguan fungsi pada saluran saraf otak yang tidak berfungsi dengan baik,” kata dokter spesialis saraf RSUD dr. Iskak Tulungagung, dr. Joko Rudiono, Sp.S saat mengisi acara talkshow kesehatan di Radio Perkasa FM, Selasa (29/9/2020).

Dijelaskan, kepikunan terdapat dua proses di antaranya ganguan secara alami dan non alami.

“Usia lanjut memang sangat rentan mengalami demensia secara alami, dan penyembuhan sulit dilakukan pada lansia di usia 65 tahun ke atas. Namun gejala itu masih bisa ditunda supaya tidak mengalami kondisi yang lebih berat dari sebelumnya,” sambung Dokter Joko.

“Meskipun tidak ada gejala rasa sakit namun sering mengalami lupa berkali kali secara berurutan, ada baiknya dilakukan pemeriksaan ke dokter supaya diketahui penyebabnya untuk mendapatkan solusi atau terapi medis,” tambahnya.

Proses kepikunan secara nonalami seringkali disebabkan karena seseorang menderita/pernah menderita penyakit kronis, misalnya penderita stuk, darah tinggi, kencing manis dll.

“Selain dipicu karena penyakit bawaan, faktor lainnya seperti pendarahan otak akibat kecelakaan dan trauma ikut mempengaruhi terjadinya demensia,” ujarnya.

Menurut dr. Joko, pengobatan pada pasien demensia ini biasanya hanya ditekankan pada proses pencegahan supaya tidak semakin parah.

Jika penyakit pikun/dimensia sudah terjadi , seringkali disertai gangguan perilaku dan emosi seperti marah-marah gelisah sulit tidur berhalusinasi dan rasa curiga tinggi.

“Dokter akan memberikan tindakan penanganan sesuai dengan kebutuhan. Biasanya memberikan saran untuk memperbaiki pola hidup sehat,” ujar dia.

Dokter Joko kemudian memberikan saran cara sederhana untuk mengantisipasi agar tidak terjadi gejala pikun dini, yaitu;

  1. Menerapkan pola hidup sehat dengan berolahraga rutin sesuai dengan kebutuhan.
  2. Mengkonsumsi makanan bergizi.
  3. Melakukan kegiatan asah otak (sering membaca/menulis).
  4. Kurangi stes dengan menghibur diri (bahagia).

“Pada umumnya, gejala pikun dini disebabkan karena tingkat stres yang berlebihan. Oleh karena itu lakukanlah gaya hidup sehat dan benar agar fungsi saluran saraf otak tidak cepat mengalami perubahan sebelum waktunya,” tuturnya.

Akibat demensia seringkali menyebabkan hubungan antara penderita dan orang yang ada di sekitarnya menjadi terganggu atau kondisi sosial kurang seimbang.

Oleh karena itu cara yang tepat untuk menyelesaikan masalah ini adalah membawa penderita untuk berobat di pelayanan kesehatan agar mendapatkan penanganan khusus.
(PKRS/Feri W)

0 Komentar

Alamat

Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo, Kedung Taman, Kedungwaru, Kec. Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur 66223

Telp. (0355) 320119