Butuh panggilan darurat medis dan non-medis? Call PSC kabupaten Tulungagung di 0355-320119 atau gunakan aplikasi PSC 119 Kabupaten Tulungagung, download di sini

Jangan Panik dan Gelisah Bila Si Kecil Terpapar TBC ANAK, Ini Cara Menanganinya

Jangan Panik dan Gelisah Bila Si Kecil Terpapar TBC ANAK, Ini Cara Menanganinya

SETIAP peringatan Hari Tuberkulosis Sedunia atau TBC yang jatuh pada tanggal 24 Maret, pemerintah dan rumah sakit tak pernah lelah mengedukasi masyarakat tentang cara mencegah penularan salah satu penyakit pernafasan ini.

RSUD dr. Iskak sendiri memiliki sebuah acara untuk memperingati hari TBC ini, yaitu  dialog interaktif “Yakinkan Anak Anda Tidak Terkena TBC?” dengan dua narasumber sekaligus, yaitu dokter spesialis anak RSUD dr. Iskak dr. Emi Yulianti, Sp. A dan dokter spesialis mikrobiologi klinik RSUD dr. Iskak dr. Rendra Bramanthi Sp. MK(K).

Faktanya saat ini, penyakit TBC pada anak menjadi salah satu penyakit infeksi kronis yang paling banyak terjadi di Indonesia.

Dokter Emi mengatakan salah satu gelaja yang ditemui pada anak yang terpapar TBC, yaitu kondisi berat badan yang tak kunjung naik, padahal sudah mengonsumsi aneka makanan dan minuman.

Terdapat juga anak yang susah makan, sehingga berdampak kepada berat badan yang cenderung menurun.

”Dari sejumlah pemeriksaan lebih lanjut, anak-anak yang mengalami penurunan berat secara drastis, ternyata terinfeksi TBC,” kata dokter Emi saat Talkshow di kanal YouTube, Instagram, Facebook RSUD dr Iskak, pada Kamis, 25 Maret 2021.

Dokter Emi mengatakan, memang gejala umum TBC pada anak ditandai dengan berat badan yang sulit naik, namun sejumlah gejala seperti; batuk dalam waktu yang lama, serta sering mengalami diare, menjadi gelaja yang perlu diwaspadai juga.

Pada umumnya, seorang anak bisa terpapar TBC karena tertular dari penderita TBC, yakni orang dewasa melalui udara.

”Kami kira jarang menemukan kasus penderita TBC yang masih anak-anak menularkan virusnya ke anak-anak lainnya,” paparnya.

Usia anak yang semakin kecil, maka semakin tinggi juga resiko tertular TBC. Hal tersebut biasanya disertai daya tahan tubuh yang menurun.

”Orang tua tak perlu panik, lebih baik memeriksakan anak ke faskes (fasilitas kesehatan) atau dokter terdekat,” kata dia.

Kontak penularan TBC pada anak bisa terjadi di dalam rumah, bisa juga di luar rumah seperti kontak langsung dengan penderita TBC.

Dokter Emi mengatakan, sangat penting menelusuri penyebab TBC pada anak, agar tidak ada lagi anak-anak lainnya yang tertular.

Mengenai pengobatan TBC pada anak, dokter Emi mengatakan, pada mulanya harus menjalani pengobatan fase intensif.

”Dalam fase ini, anak meminum obat TBC selama enam bulan, tidak boleh putus di tengah jalan,” terangnya.

”Kalau putus pengobatannya, penderita TBC pada anak harus mengulangi dari awal pengobatannya,” imbuhnya. Dalam dua minggu pertama, anak bisa diajak kontrol kesehatan ke dokter untuk mencegah efek samping obat. Selain itu berat badan anak dipantau untuk mengetahui fase pengobatan berjalan dengan lancar. (PKRS/MAS)

Alamat

Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo, Kedung Taman, Kedungwaru, Kec. Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur 66223

Telp. (0355) 320119