Butuh panggilan darurat medis dan non-medis? Call PSC kabupaten Tulungagung di 0355-320119 atau gunakan aplikasi PSC 119 Kabupaten Tulungagung, download di sini

Kenali Gejala TBC Pada Anak Sebelum Terlambat

Kenali Gejala TBC Pada Anak Sebelum Terlambat

SEBAGAI orang tua, kita patut mewaspadai jika anak mendadak mengalami penurunan berat badan secara berkala dan disertai kondisi (terlihat) lemas, demam lama, letih dan mungkin di temukan adanya benjolan kelenjar pada leher kanan atau kiri. Kondisi tersebut bisa jadi adalah gejala dari Tuberculosis (TBC).

Hal itu disampaikan oleh dr. Emi Yulianti, Sp. A. dokter spesialis anak RSUD dr. Iskak Tulungagung dalam acara talkshow interaktif oleh tim Promosi Kesehatan Rumah Sakit (PKRS) yang disiarkan secara langsung melalui kanal resmi RSUD dr Iskak di YouTube, Facebook dan Instagram, Senin (5/10/2020).

Menurut penjelasan dr. Emi, pada umumnya gejala TBC anak ditunjukkan dengan ciri fisik tubuh kurus (tidak ideal) meskipun sudah mengkonsumsi makanan dengan gizi yang cukup. Kemudian dalam keseharian, anak terlihat lemas dan kurang aktif seperti anak-anak sebaya pada umumnya.

Kondisi tersebut disebabkan imunitas atau kekebalan tubuh anak kurang sehingga nampak kurang sehat.

“Selain itu, orang tua dapat mengenalinya dari ciri ciri tubuh anak terutama pada leher yang biasanya terdapat benjolan atau pembesaran pada kelenjar getah bening di sisi kanan atau kiri,” katanya.

Lanjut dr. Emi, meskipun bayi atau anak tampak mengalami gejala tersebut namun belum bisa dipastikan telah positif menderita TBC, karena gejala klinis tersebut tidak khas dan sering juga ditemukan pada penyakit yang lain .

Untuk mendiagnosa TBC pada anak lebih rumit dibandingkan dengan orang dewasa. Dibutuhkan beberapa tahapan pemeriksaan medis dan penunjang yang harus dilakukan untuk memastikan diagnosa.

Pada orang dewasa, gejala TBC cenderung lebih mudah dikenali, semisal batuk lebih dari 2 Minggu (bisa sampai mengeluarkan darah), keringat dingin di malam hari meski tanpa aktivitas, dan beberapa ciri khas lainnya.

“Namun untuk gejala pada anak sangatlah berbeda dengan orang dewasa. Anak tidak selalu batuk maupun mengeluarkan keringat dingin. Dan untuk membuktikan kebenaran diagnosa diperlukan beberapa pemeriksaan misal pasien harus diperiksa dahaknya kemudian di uji tuberkulin, dan laboratorium lainnya untuk melihat hasilnya,” berbeda dengan TBC dewasa yang bisa di tegakkan hanya dengan pemeriksaan rongsen dada dan dahak. papar dr. Emi

Anak Bayi usia dan balita sangat rentan terpapar kuman mycobacterium tuberculosis. Mengingat kuman dari penderita positif TBC dewasa ini dapat menularkan melalui droplet atau percikan dahak kesiapapun tanpa mengenal usia.

Awal penularan kuman mycobacterium tuberculosis ini, disebabkan oleh percikan dahak orang yang menderita positif TBC.

Pasien atau orang yang dinyatakan positif TBC menularkannya ketika saling berinteraksi, tanpa pelindung diri misal masker di situlah kuman TBC menyebar melalui droplet terlebih ketika bersin, batuk, tertawa maupun berkomunikasi tatap muka.

“Bayi atau anak dapat tertular, karena menghirup udara di sekitar mereka (pasien positif TBC), atau terkena percikan air liur yang mengandung kuman,” terangnya.

Meskipun demikian, sebenarnya pengidap TBC pada semua usia dapat disembuhkan secara total melalui pengobatan medis yang benar. Namun untuk mencapai kesehatan maksimal biasanya pasien membutuhkan lebih banyak waktu.

Pada proses perawatan, misalnya, pasien harus di rumah sakit untuk beberapa hari kemudian sampai merasa baik. Setelah itu, pengobatanya dilanjutkan secara mandiri (di rumah) minimal enam bulan lamanya mengikuti program pengobatan dari dokter.

“Masa pengobatan memang lama, sehingga perlu adanya kedisiplinan minum obat sesuai anjuran untuk membunuh bakteri ataupun kuman yang tersisa dan untuk pemulihan kondisi seperti awal,” ujarnya.

Dr. Emi Yulianti memberikan tips supaya bayi dan anak dapat terhindar dari penyakit menular tersebut. Dan cara pencegahannya adalah sebagai berikut:

  1. Hindarkan kontak langsung dari orang yang menderita penyakit TBC.
  2. Imunisasi Bacillus Calmette-Guérin atau BCG untuk mencegah tuberkulosis pada anak-anak.
  3. Menjaga pola hidup sehat anak dengan memberikan asupan gizi yang cukup.
  4. Minum obat obatan pencegahan (sesuai dengan resep dokter) pada anak balita yang kontak erat dengan penderita TBC aktif
  5. Penginap TBC harus diberikan masker supaya udara tetap aman untuk anak.

“Siapapun bisa berisiko terinfeksi TBC, akan tetapi dengan menerapkan pola hidup sehat dan bersih salah satu cara terbaik untuk mencegah daripada mengobati,” tutur Dr. Emi Yulianti SpA.
(PKRS)

0 Komentar

Alamat

Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo, Kedung Taman, Kedungwaru, Kec. Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur 66223

Telp. (0355) 320119