Butuh panggilan darurat medis dan non-medis? Call PSC kabupaten Tulungagung di 0355-320119 atau gunakan aplikasi PSC 119 Kabupaten Tulungagung, download di sini

Mau Bedah Plastik Estetik? Yuks, Kenali Dulu Apa Saja Manfaat dan Risikonya

Mau Bedah Plastik Estetik? Yuks, Kenali Dulu Apa Saja Manfaat dan Risikonya

PERNAH terfikir seperti apa sejarah operasi plastik bermula? Kenapa disebut operasi plastik, sementara prosedur bedah ini ternyata tak pernah menggunakan bahan plastik? Saat istilah operasi plastik muncul, bahan plastik sendiri bahkan belum ditemukan.

Studi literartur yang direferensikan ulang di laman merdeka.com menyebut, prosedur operasi plastik tertua yang tercatat sejarah dilakukan pada abad 16. Saat itu, Gaspare Tagliacozzi, seorang tabib asal Italia mencoba memperbaiki cacat hidung salah satu pasiennya dengan transplantasi jaringan kulit dari lengan bagian dalam.

Sementara istilah operasi plastik sendiri digunakan untuk pertama kalinya pada abad 19. Tepatnya pada kurun 1837. Namun seperti yang sudah kita ketahui bersama, bedah kosmetik ini sama sekali tidak menggunakan bahan plastik. Plastik justru baru ditemukan 18 tahun kemudian. Nah lho, lalu dari mana istilah operasi plastik berasal?

Dokter Spesialis Bedah Plastik dan Rekontruksi Estetik RSUD dr. Iskak dr. Santi Devina, Sp. BP-RE dalam sebuah talkshow interaktif di RSUD dr. Iskak Tulungagung (Kamis, 24/9/2020) mengulas sekilas asal kata bedah plastik ini, sebelum akhirnya menjelaskan kenapa bedah plastik ini diperlukan dalam dunia medis, berikut segala risikonya.

Kata dia, kata plastik dalam operasi plastik diadopsi dari bahasa Yunani, (yaitu) plastikos. Kata ini memiliki arti ‘membentuk’ atau ‘mencetak’, sesuai dengan tujuan operasi plastik pada saat itu, yaitu rekonstruksi bagian tubuh yang rusak atau mengalami kecacatan.

Pada pertengahan abad 19, jenis operasi plastik semakin beragam. Salah satunya adalah rhinoplasty atau operasi hidung. Hal ini sejalan dengan perkembangan teknik anestesi dan sterilisasi yang penting untuk meminimalisir risiko dalam operasi plastik.

Kendati demikian, pada masa itu operasi plastik atau yang di Amerika dikenal dengan istilah plastic surgery ini belum diakui sebagai salah satu cabang ilmu kedokteran.

Seiring berjalannya waktu, keilmuan tentang operasi plastik terus berkembang. Bahkan kemudian diakui sebagai salah satu cabang ilmu kedokteran yang diakui secara internasional.

Menurut dr. Santi Devina, operasi plastik atau bedah plastik ini memiliki dua cabang. Yakni bedah plastik estetik (kosmetik) dan bedah rekonstruksi. Dan sesuai namanya, operasi rekonstruksi bertujuan untuk mengoreksi kecacatan pada bagian tubuh. Cacat tersebut dapat terbentuk sejak lahir atau karena kecelakaan. Operasi atau bedah rekonstruksi dilakukan untuk alasan medis.

Ada banyak penyakit yang ditangani dengan bedah rekonstruksi. Sementara itu, operasi kosmetik dilakukan untuk meningkatkan penampilan fisik seseorang, mulai dari bagian kepala hingga bagian kaki.

Jenisnya pun dapat beragam, seperti facelift atau rhytidectomy (penghilangan kerutan di wajah), pembesaran payudara, hingga rhinoplasty atau nose-job (untuk mempercantik hidung). Walau namanya operasi estetik, tak semua tindakan ini melibatkan “operasi”.

“Manfaat dari operasi bedah plastik rekonstruksi adalah sebuah tindakan medis yang dilakukan untuk mengubah atau membantu mengembalikan fungsi normal pada bagian fisik yang cacat sejak lahir atau cacat karena trauma kecelakaan. Misalnya memperbaiki kecacatan pada kelainan bibir sumbing, jari ganda, luka kecelakaan dan lainnya,” papar dr. Santi menjelaskan panjang lebar.

Sedangkan operasi bedah plastik estetik, lanjut dia, merupakan tindakan medis yang fokus lebih pada pembenahan fisik yang sehat (tidak cacat), dengan tujuan mencapai tampilan yang lebih menarik (harmoni) sesuai dengan keinginan pasien itu sendiri. Seperti memperindah bentuk alis, mata, kelopak mata, hidung, dagu, penyempurnaan bentuk tulang pipi, serta perbaikan payudara.

Saat ini, dengan ilmu kedokteran yang semakin maju dan perangkat medis yang semakin canggih, operasi plastik tidak lagi menjadi hal yang menakutkan. Sebaliknya, operasi bedah plastik estetik justru kian diminati masyarakat untuk memperbaiki penampilannya, supaya lebih terlihat cantik atau ganteng sesuai keinginan. Intinya supaya kepercayaan diri meningkat.

Tuntutan gaya hidup inilah yang kerap membuat seseorang memutuskan untuk menambah keindahan ideal pada bagian wajah secara instan. Akan tetapi, setiap tindakan operasi dan tindakan bedah plastik selalu ada risiko-risiko yang harus diketahui (dipertimbangkan). Sebab jika tidak hati-hati atau dilakukan dengan gegabah, tindakan operasi plastik justru dapat memicu efek samping yang cukup parah (disharmoni).

Dokter Santi mengatakan, efek samping usai operasi plastik di bagian wajah akan mengalami memar, nyeri, kulit memerah dan mengeluarkan cairan.  “Risiko yang ringan akan dengan sendirinya membaik, seiring dengan berlangsungnya proses penyembuhan,” katanya.

Menurut dia, resiko paling parah pada tindakan operasi plastik adalah ketidaksesuaian hasil operasi dengan keinginan pasien, yang memungkinkan dapat berdampak pada kejiwaan pasien itu sendiri (stres).  “Misalnya saja operasi plastik pada bagian hidung inggin lebih mancung tapi hasilnya justru kadang tidak simetris, dan ini justru menjadi sangat buruk,” ujarnya.

Lanjut Dokter Santi, pihak rumah sakit dan dokter tidak dapat menjamin atas hasil operasi. Di awal sebelum tindakan operasi harus melalui konsultasi terlebih dahulu, kemudian membuat kesepakatan kesepahaman antara pasien dan dokter.

“Setelah melakukan konsultasi, jika hasilnya beresiko kepada pasien maka akan diberikan saran tindakan operasi di tunda terlebih dahulu, dilanjutkan setelah pasien benar benar kondisinya sesuai dengan prosedur operasi yang ada,” katanya.

Oleh karena itu, tindakan operasi pada bagian wajah memerlukan pertimbangan yang cukup matang. Terlebih, pasien harus mempersiapkan mental dan siap menghadapi resiko pasca operasi.

Jika masih ragu atau bimbang, jangan segan untuk berkonsultasi dengan dokter ahli yang secara keilmuan memiliki pengetahuan memadai tentang bedah plastik. Di RSUD dr. Iskak Tulungagung, misalnya,  juga sudah bisa melayani konsultasi bedah plastik rekonstruksi maupun bedah plastik estetik. Bisa di Poli Bedah untuk pelayanan poliklinik regular ataupun di Poli Eksekutif Graha Hita Husada RSUD dr. Iskak Tulungagung yang dibuka pada jam kerja pada hari Senin dan Rabu.

“Di poli bedah atau di poli eksekutif ini sobat Iskak yang ingin operasi bedah plastic bisa konsultasi langsung ke Dokter Santi. Pedaftaran melalui aplikasi Si-Poetri bisa lewat SMS/WA di nomor layanan RSUD dr. Iskak Tulungagung di 082333553066,” kata Mochamad Rifai, staf Humas RSUD dr. Iskak yang memandu acara talkshow interaktif tersebut.
(PKRS)

Berikut ini 10 risiko operasi bedah plastik yang perlu diketahui**;

  1. Kerusakan saraf

Pada beberapa kasus tindakan bedah, risiko kerusakan saraf dapat terjadi, termasuk saat menjalani operasi plastik. Komplikasi ini paling jelas terjadi di saraf wajah yang membuat Anda sulit untuk memberikan ekspresi muka. Mata yang terlihat terkulai pun berisiko terjadi. Mayoritas kasus kerusakan saraf akibat operasi plastik dapat ditangani, walau ada pula yang menjadi kerusakan permanen.

  1. Terbentuk jaringan parut.

Pembentukan jaringan parut sering terjadi pada tindakan bedah, termasuk operasi plastik. Tentunya hal ini dapat mengganggu orang yang mengalaminya karena tujuan operasi kosmetik adalah meningkatkan estetika diri.Pasien bisa menurunkan risiko jaringan parut ini, dengan tidak merokok pascaoperasi, mengonsumsi makanan sehat, serta mengikuti arahan dokter.

  1. Infeksi.

Infeksi menjadi salah satu komplikasi operasi plastik yang umum terjadi. Salah satunya yakni infeksi selulitis yang merupakan infeksi pada kulit.Pada beberapa kasus, infeksi pascaoperasi plastik dapat terjadi di tubuh bagian dalam dan menjadi parah. Kondisi ini akan membutuhkan pemberian antibiotik secara intravena.

  1. Perdarahan.

Operasi apa pun berisiko menimbulkan perdarahan. Apabila tidak terkontrol, perdarahan dapat menimbulkan penurunan tekanan darah dengan risiko kematian.Perdarahan tersebut dapat terjadi selama proses operasi maupun pascaoperasi. Perdarahan setelah operasi plastik dapat disebabkan oleh pasien yang terlalu aktif bergerak.

  1. Hematoma.

Hematoma adalah kumpulan darah yang terbentuk di luar pembuluh darah dan terkadang menimbulkan rasa sakit. Hematoma umum terjadi hampir di semua jenis operasi, seperti facelift maupun pembesaran payudara.

  1. Seroma.

Seroma mirip dengan hematoma, yang merupakan kumpulan cairan limfatik di permukaan kulit. Kondisi ini dapat menyebabkan pembengkakan dan rasa sakit. Risiko ini juga bisa terjadi di semua operasi, termasuk operasi plastik abdominoplasty (pengencangan perut).Apabila kumpulan cairan tersebut cukup besar, dokter akan menyingkirkan cairan tersebut menggunakan jarum. Langkah ini efektif untuk menangani seroma pascaoperasi, walau tetap berisiko kumpulan cairan tersebut muncul kembali.

  1. Gumpalan darah.

Terbentuknya gumpalan darah menjadi risiko yang umum terjadi di banyak prosedur medis, termasuk operasi plastik. Salah satu jenis gumpalan tersebut adalah trombosis vena dalam yang terbentuk di area kaki.Gumpalan darah harus ditangani oleh dokter, sekalipun di banyak kasus tak mengancam nyawa. Gumpalan tersebut dapat mematikan jika gumpalan darah bergerak melalui pembuluh balik menuju jantung dan paru-paru.

  1. Operasi plastik gagal.

Menjadi momok bagi pasien yang menjalani operasi kosmetik, hasil operasi yang tak sesuai keinginan tetap bisa terjadi. Tak hanya gagal memberikan peningkatan penampilan fisik, hasil operasi ini juga dapat menjadi lebih buruk dibandingkan sebelumnya.

  1. Komplikasi anestesi.

Anestesi atau bius adalah tindakan untuk membuat pasien hilang kesadaran beberapa saat, sehingga pasien tidak merasakan saat operasi berlangsung. Komplikasi tersebut dapat berupa infeksi paru-paru, stroke, serangan jantung, hingga kematian.

  1. Kematian.

Ya, setiap operasi berisiko menimbulkan kematian pasien. Walau mungkin risiko tersebut kecil, sangat mungkin pasien meninggal dunia saat menjalani operasi.Komplikasi akibat reaksi dari obat anestesi merupakan kasus kematian yang paling banyak terjadi karena menjalani operasi.

*)Narasumber: dr.Santi Devina, Sp. BP-RE
**)Sumber dan referensi lain, . www.merdeka.com dan www.sehatq.com
0 Komentar

Alamat

Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo, Kedung Taman, Kedungwaru, Kec. Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur 66223

Telp. (0355) 320119