Butuh panggilan darurat medis dan non-medis? Call PSC kabupaten Tulungagung di 0355-320119 atau gunakan aplikasi PSC 119 Kabupaten Tulungagung, download di sini

Melindungi Warga Dengan Tombol 119

Melindungi Warga Dengan Tombol 119

oleh: dr. Bobi Prabowo, Sp. Em, Kepala IGD RSUD dr. Iskak Tulungagung

Aksi terorisme yang terjadi di tanah air telah menimbulkan dampak luar biasa. Tak hanya merenggut nyawa, kerusakan ekonomi, politik, hingga kehidupan sosial nyaris tak bisa dihindari. Situasi ini mulai mengkhawatirkan mengingat tren terjadinya terorisme di tanah air makin tak bisa diprediksi.

Berawal dari kerusuhan di rumah tahanan cabang Salemba yang bertempat di Mako Brimob Kelapa Dua Depok, aksi teror berlanjut ke sejumlah daerah secara beruntun. Dalam sekejap daerah yang semula aman dan nyaman berubah menjadi zona perang. Bom meledak di mana-mana dengan korban jiwa mencapai puluhan orang.

Beruntung pemerintah kita bergerak cepat. Aparat keamanan menyisir semua kantong teroris dan gerakan radikal untuk mengembalikan keamanan warga Indonesia. Meski perjuangan itu harus dibayar mahal dengan nyawa manusia baik orang tua, remaja, hingga anak-anak, namun upaya menegakkan kewibawaan negara tak pernah padam.

Tragedi tersebut mengajarkan kepada kita tentang ancaman terorisme yang menjadi bahaya laten, serta kesiapan infrastruktur negara untuk melindungi masyarakat. Tak cukup dengan pendekatan keamanan saja, pengamanan serta perlindungan warga negara harus dilakukan bersama dalam kinerja yang sistematis.

Negara maju seperti Amerika telah mengawali upaya perlindungan warga melalui panggilan darurat 911. Sambungan telepon ini bekerja selama 24 jam non stop melayani panggilan darurat dengan berbagai kasus. Tingginya kesadaran warga Amerika untuk melindungi diri dan lingkungan, menjadikan 911 sebagai panggilan wajib di buku telepon mereka.

Bagaimana dengan kita? Pemerintah Indonesia sebenarnya telah melakukan upaya serupa untuk melindungi warganya dari ancaman keselamatan.

Layanan panggilan darurat yang menjadi sistem National Command Centre (NCC) ini setidaknya telah ada di sejumlah lembaga pemerintah. Kementerian Kesehatan memiliki panggilan darurat 119, Kepolisian Republik Indonesia di nomor 110, Kementerian Komunikasi dan Informatika di nomor 112, serta BASARNAS yang memiliki panggilan darurat di nomor 115.

Hanya saja harus diakui bahwa sistematika panggilan darurat yang masih sporadis di masing-masing lembaga pemerintah itu menjadi persoalan sendiri. Tidak seperti panggilan 911 di Amerika Serikat yang menjawab semua kondisi darurat, serta terhubung dengan semua unit tindakan, panggilan darurat di Indonesia masih bersifat sektoral. Sehingga masyarakat harus mengenali dan menghafal tiap-tiap nomor untuk mendapat layanan pertolongan yang dibutuhkan. Padahal seharusnya panggilan darurat harus bisa menjawab semua situasi dan pengaduan masyarakat hanya dengan menekan satu nomor panggilan saja.

Selain menyulitkan masyarakat, sistematika yang masih berdiri sendiri antar stakeholder ini juga membatasi ruang tindakan. Batasan kewenangan birokrasi antar lembaga menjadi persoalan klasik yang semestinya tak lagi terjadi di era milenial yang serba cepat dan efisien.

Penanganan aksi terorisme yang berbuntut pada jatuhnya korban jiwa maupun luka akan jauh lebih cepat jika sistematika koordinasi antar lembaga berjalan baik. Meski kejahatan terorisme tergolong perbuatan yang memerlukan tindakan khusus, namun upaya penyelamatan korban manusia harus tetap menjadi prioritas.

Di tengah tindakan represif yang dilakukan aparat keamanan kepada pelaku kejahatan, pergerakan tim medis harus berjalan seiring. Semua lembaga yang memiliki kapasitas dan tanggungjawa profesional dituntut mampu bergerak bersama untuk meminimalisir korban manusia.

Meski tak berharap musibah itu terulang, namun pemerintah harus mulai berfikir untuk mengintegrasikan semua lembaga ke dalam sistem Call Centre. Dengan demikian kendali penanganan situasi darurat sepenuhnya berada di tangan pemerintah melalui operator Call Centre, untuk menganalisa dan menentukan tindakan yang tepat.

Terlebih lagi untuk penanganan kegawatdaruratan medis yang berdampak pada kelangsungan kualitas hidup manusia memerlukan respon yang cepat, tepat, dan aman untuk meminimalisir dampak buruk kesehatan yang terjadi. Kecepatan ini sekaligus menurunkan angka kematian (mortalitas) dan angka kecacatan korban (morbiditas) yang ditimbulkan.

Tragedi teror bom yang terjadi di Boston Marathon pada tahun 2013 menjadi contoh bagus bagaimana kinerja semua lembaga pemerintah berjalan terintegrasi. Dengan dua ledakan yang memakan korban luka hingga 281 orang, petugas mampu menekan jumlah korban jiwa hanya tiga orang saja. Ketiganya meninggal di lokasi kejadian akibat ledakan sebelum mendapat pertolongan medis. Sementara ratusan pasien lain yang dengan cepat dilarikan ke rumah sakit semuanya selamat.

Di Tulungagung, Jawa Timur, upaya mensinergikan lembaga atau stakeholder tersebut sudah lebih dulu berjalan. Melalui nomor darurat (0355) 320119, semua unit tindakan bisa digerakkan dalam waktu singkat. Mereka terdiri dari RSUD Dr Iskak, seluruh jajaran Puskesmas, Kepolisian, Kodim, Unit Pemadam Kebakaran, serta Badan Penanggulangan Bencana Daerah.

Panggilan darurat yang menjadi Call Centre Public Safety Centre (PSC) ini dikendalikan oleh operator di RSUD Dr Iskak Tulungagung. Selama 24 jam, operator akan bersiaga membantu penanganan situasi darurat medik maupun non medis seperti kejahatan, kebakaran, banjir, dll.

Program ini juga telah diakui secara nasional oleh Kementerian Kesehatan RI sebagai percontohan penerapan PSC yang ideal di seluruh Indonesia.

0 Komentar

Alamat

Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo, Kedung Taman, Kedungwaru, Kec. Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur 66223

Telp. (0355) 320119