Butuh panggilan darurat medis dan non-medis? Call PSC kabupaten Tulungagung di 0355-320119 atau gunakan aplikasi PSC 119 Kabupaten Tulungagung, download di sini

Mengapa Wabah Malaria Berbahaya? Ini Penjelasan Dokter Hengky Wijaya, Sp.PD

Mengapa Wabah Malaria Berbahaya? Ini Penjelasan Dokter Hengky Wijaya, Sp.PD

NYAMUK anophelles  bisa dibilang sebagai salah satu jenis binatang berbahaya di dunia. Kendati ukurannya kecil, hanya sekitar enam milimeter, namun dampak gigitannya bisa menyebabkan orang yang tergigit meninggal dunia.

Hal itu bisa terjadi lantaran gigitan nyamuk anopheles mengandung parasit malaria yang kemudian masuk ke dalam tubuh manusia.

Dari infeksi parasit yang dibawa nyamuk anopheles itulah malaria menyebar ke seluruh tubuh manusia yang menjadi inangnya.

Dan apabila parasit ini sudah merasuk hingga organ dalam yang sensitif seperti organ hati, sel darah merah atau organ dalam lain dan tidak egera tertolong, fatalitas bisa terjadi.

WHO mencatat, sekitar satu (1) juta orang meninggal akibat malaria setiap tahunnya, dengan anak-anak menjadi korban paling banyak.

Berawal dari gigitan nyamuk yang mengeluarkan parasit dan masuk ke dalam tubuh manusia, disitulah parasit secara perlahan akan mulai menguasai bagian-bagian organ, seperti hati dan sel darah merah serta organ tubuh lainnya.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSUD dr. Iskak Tulungagung dr. Hengki Wijaya, Sp. PD menjelaskan, malaria adalah salah satu bentuk infeksi parasit yang berjenis plasmodium.

“Parasit plasmodium itu masuk ke dalam tubuh manusia lewat gigitan nyamuk anopheles betina, sehingga menyebabkan infeksi,” kata dr. Hengki dalam acara Talk Show Interaktif Radio Perkasa FM pada Selasa, 27 April 2021.

Menurutnya, terjadinya infeksi malaria beranekaragam. Bisa karena bakteri yang menimbulkan gejala tifus atau tipes, karena infeksi virus yang dapat membuat orang terkena flu, atau bisa juga dikarenakan infeksi jamur.

“Sedangkan untuk infeksi parasit itu dikarenakan malaria,” jelasnya.

Dijelaskan, alur masuknya infeksi parasit ke dalam tubuh manusia diawali dengan masuknya parasit plasmodium ke dalam darah manusia.

Plasmodium yang terbawa aliran darah ini kemudian masuk ke hati lalu tercampur dan terbawa sel- sel darah merah. Dalam sel darah merah inlah plasmodium berkembang biak sampai menimbulkan gejala yang akan dirasakan oleh tubuh penderita yang menjadi inangnya.

“Jika jumlah infeksinya semakin banyak dan meluas di hati dan sel darah merah, maka di situlah akan timbul gejala-gejala,” jelasnya.

Menurut dr. Hengki, gejala umum yang timbul pada penderita yang telah terinfeksi malaria, biasanya adalah demam, sakit kepala, dan diare.

Keluhan lainnya yang dirasakan bisa berupa keluhan mual sampai muntah, nyeri otot bahkan sampai ke organ-organ yang lainnya, seperti gangguan pada bagian otak yang dapat menimbulkan penurunan kesadaran.

“Tak hanya itu, gejala yang timbul tersebut bisa menyebabkan sel darah merah pecah di dalam organ hati. Bahkan trombositnya mengalami penurunan, sehingga berisiko livernya akan membesar,” paparnya

“Jika sel darah merah pecah, maka penderita akan mengalami pucat. Selain itu bisa sampai mengalami ikterik atau kuning pada bagian mata,” tambahnya.

Gejala pada penderita yang terinfeksi parasit berjenis plasmadium ini, memang mempunyai kemiripan dengan pasien demam berdarah, COVID-19 dan lainnya. Namun yang membedakan adalah hasil dari pemeriksaan laboratorium penunjang rumah sakit.

“Tidak selalu keluhan mereka itu timbul demam, diare, mual, muntah ataupun nyeri, gejala dari malaria namun itu secara umum saja. Tingkat demamnya pun berbeda beda. Untuk memastikan, darah pasien harus diperiksa melalui laboratorium terlebih dahulu,” jelasnya

Lebih lanjut, kata dr. Hengki, tingkat keparahan malaria pun bervariasi, berdasarkan pada spesies plasmodiumnya seperti plasmodium falciparum, plasmodium vivax, plasmodium ovale, plasmodium malariae dan plasmodium knowlesi.

Seseorang yang rentan tertular malaria biasanya usai bepergian di wilayah endemik malaria, misalnya Papua, NTT  (Nusa Tenggara Timur), serta dari luar negeri seperti Afrika dan lainnya.

Namun orang  yang tidak pernah bepergian jauh bisa juga terkena melalui penularan lokal. “Malaria bisa menular terus menerus melalui gigitan nyamuk. Jika ada pasien di ketahui mempunyai riwayat berpergian ke wilayah endemik malaria, nah terutama sejak mengalami demam segeralah melakukan pemeriksaan di pelayanan kesehatan setempat,” tutupnya.(PKRS/MFW)

Alamat

Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo, Kedung Taman, Kedungwaru, Kec. Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur 66223

Telp. (0355) 320119