Ribuan Nakes RSUD dr. Iskak Terima Vaksin “Booster”

TIM Vaksinasi RSUD dr. Iskak Tulungagung bertahap mulai memberikan vaksin booster atau penguat kepada jajaran petugas/tenaga kesehatan maupun karyawan non-nakes lain demi menguatkan imunitas tubuh rerhadap wabah COVID-19.

Total ada 1.900-an nakes dan sumber daya manusia bidang kesehatan (SDMK) di lingkup RSUD dr Iskak yang dijadwalkan mendapat vaksinasi dosis ketiga tersebut.

“Vaksinasi dosis ketiga atau booster ini sudah kami mmulai sejak Selasa (10/8/2021) dan akan dilakukan bertahap hingga enam pekan ke depan,” kata Wakil Direktur Pelayanan RSUD dr. Iskak, dr Zuhrotul Aini, Sp.A.

Pelaksanaan vaksinasi ketiga untuk nakes dan karyawan di lingkungan RSUD dr. Iskak itu sendiri sudah sesuai instruksi Kementerian Kesehatan.

Jika vaksinasi sebelumnya menggunakan vaksin Sinovac dan Astrazeneca, dalam imunisasi untuk pendorong atau penguat daya imun nakes dan SDM bidang kesehatan kali ini menggunakan Vaksin Moderna.

Penjelasan Dokter Aini, penyuntikkan dosis ketiga ini berfungsi sebagai booster imun, hampir sama dengan vaksinasi dosis kedua sebelumnya. Bedanya vaksin ketiga atau bosster kali ini berfungsi sebagai penguat, sebagai pendorong imun tubuh terhadap risiko papara virus.

“Harapannya dengan adanya penyuntikkan ini dapat memacu kekebalan tubuh pada para nakes dan SDMK yang rentan terpapar,” ujarnya.

Aini melanjutkan, dari data yang tercatat total nakes dan SDMK di RSUD dr. Iskak yang akan mendapatkan vaksin berjumlah 1.900 orang.

Mereka dijadwalkan menerima vaksinasi seara bertahap, untuk mencegah risiko terjadinya KIPI (kejadian ikutan pascaimunisasi) secara masal/bersamaan.

“Kami jadwalkan mulai Selasa hingga Jumat. Perharinya ada 150-an orang yang divaksin,” katanya..

Sesuai ketentuan, setiap nakes maupun SDMK yang telah menerima vaksin dosis ketiga dianjurkan untuk berisitirahat beberapa hari, sampai KIPI yang dirasakan hilang sama sekali. “Dijadwal seperti ini agar pelayanan di RSUD tidak terhenti,” tuturnya.

Menurut Aini, vaksin Moderna diakui memang lebih keras dibanding Sinovac. Hal ini dikarenakan Vaksin Moderna mengandung messenger RNA (mRNA), yakni salah satu jenis ribonukleat acid (RNA) yang ditemukan di dalam sel.

Vaksin mRNA tidak menggunakan virus atau kuman yang dilemahkan atau dimatikan seperti Sinovac, melainkan komponen materi genetik yang direkayasa agar menyerupai kuman atau virus tertentu.

Dengan demikian, vaksin ini diharap dapat memicu reaksi kekebalan tubuh yang lebih optimal jika dibandingkan dengan virus dan kuman yang dilemahkan pada vaksin biasa. “Inilah mengapa laporan KIPI Vaksin Moderna lebih tinggi jika dibandingkan dengan vaksin jenis lain,” ujarnya.

Kendati demikian, untuk Kabupaten Tulungagung belum ada laporan KIPI berat untuk penggunaan Vaksin Moderna ini.

Rata-rata KIPI yang dilaporkan berupa suhu badan tinggi dan nyeri di area bekas suntikan. “Ini masih tergolong KIPI ringan. Namun memang rata-rata akan mengalami hal tersebut,” ujarnya.

Sementara untuk nakes yang terpapar COVID-19 atau penyintas, Aini memastikan mereka juga mendapatkan haknya untuk menerima Vaksin Moderna.

Namun, interval penyuntikan bagi penyintas hanya boleh dilakukan minimal tiga bulan pasca dinyatakan negatif COVID-19. “Untuk penyintas bisa kami suntik tiga bulan setelah ia sembuh,” tandasnya. (PKRS/AAP)

Berita Terkait

Berita Terbaru

Polling

Apakah website ini bermanfaat untuk Anda?