Butuh panggilan darurat medis dan non-medis? Call PSC kabupaten Tulungagung di 0355-320119 atau gunakan aplikasi PSC 119 Kabupaten Tulungagung, download di sini

RSUD dr Iskak di Gawang Pandemi

RSUD dr Iskak di Gawang Pandemi

Rasio kematian (Case Fatality Rate/ CFR) akibat COVID-19 di Kabupaten Tulungagung selama triwulan pertama virus ini mewabah, sangatlah rendah. Hanya sekitar 1,26 persen atau tiga kasus dari total kasus terkonfirmasi positif hingga pekan pertama Juli 2020, yakni sebanyak 238 orang. Rendahnya CFR ini, tentu tidak bisa dilepaskan dari kapabilitas RSUD Iskak sebagai penjaga gawang pandemi COVID-19 di Kabupaten Tulungagung.

Kasus kematian pertama terjadi ketika seorang pria berinisial K dari Kecamatan Sumbergempol dengan gejala-gejala gangguan pernafasan meninggal pada 13 Mei setelah sempat dirawat sekitar satu minggu. Konfirmasi infeksi virus corona strain baru (SARS-CoV-2) pada K baru keluar beberapa hari setelah kematiannya menyusul hasil swab test dengan mesin tes Polymerase Chain Reaction (PCR) dari laboratorium di Surabaya.

Kasus kematian kedua adalah warga Desa Beji dengan inisial A, yang meninggal pada 5 Juni lalu. Selain memiliki penyakit penyerta (comorbid), usia A juga sudah lanjut, yaitu 74 tahun. “Keduanya memiliki penyakit penyerta (comorbid). K dengan pneumonia dan kencing manis sedangkan A dengan pneumonia dan sepsis. A juga sudah berusia lanjut, berada dalam kelompok umur beresiko tinggi,” ujar Direktur RSUD Iskak, dr. Supriyanto Dharmoredjo, Sp.B, M.Kes.

Nyawa tetaplah nyawa, tak terhingga nilainya. Namun angka CFR kurang dari satu persen merupakan sebuah keberhasilan yang patut disematkan pada seluruh elemen Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan COVID-19 Tulungagung. Dan, lebih khusus lagi pada RSUD dr Iskak yang melakukan segala upaya penyelamatan pasien, terutama pasien dengan tingkat kesakitan sedang dan berat. Berdasarkan data hingga awal Juni, Tulungagung menempati urutan ke-5 dalam jumlah kasus terkonfirmasi COVID-19.

Namun dengan tiga kasus kematian itu, CFR (case fatality rate) COVID-19 di Tulungagung menjadi salah satu dari sedikit kabupaten/kota di Jawa Timur dengan tingkat kematian terendah, jauh dibawah tingkat kematian Jawa Timur yang ada di kisaran 7,75 persen. Kota Surabaya, epicenter penyebaran COVID-19 di Jawa Timur dengan 6.198 kasus terkonfirmasi (data 3 Juli 2020), memiliki angka kematian sekitar 7,7 persen atau 476 kasus kematian. Di antara 10 kabupaten/kota dengan jumlah kasus terkonfirmasi terbanyak di Jawa Timur, Kabupaten Bangkalan di Pulau Madura memiliki tingkat kematian tertinggi, yaitu 13,5 persen atau 34 kasus kematian dari total 253 kasus terkonfirmasi pada awal Juli.

Tingkat kematian tertinggi berikutnya ada di Kabupaten Lamongan dengan 13,55 persen dan Kabupaten Malang dengan 10,97 persen. Persentase tingkat kematian di Tulungagung yang rendah memang ditopang oleh lonjakan jumlah kasus terkonfirmasi sejak mesin tes PCR bisa dilakukan di RSUD Iskak. Hal ini membuat upaya “menemukan” warga yang positif COVID-19 menjadi lebih efektif. Namun, sebelum mesin PCR dimiliki RSUD dr. Iskak, yaitu ketika jumlah kasus terkonfirmasi baru di kisaran 63 orang, CFR Tulungagung masih tetap rendah yaitu 1,58 persen atau satu kasus kematian.

Angka tersebut berada di antara sedikit kabupaten/kota di Jawa Timur yang memiliki tingkat kematian kurang dari 2 persen. Beberapa di antaranya adalah Kota Blitar, Kota Madiun, Kabupaten Ngawi, Kabupaten Pacitan dan Kabupaten Trenggalek. Bedanya, lima daerah tersebut merupakan daerah dengan angka kasus konfirmasi terendah, sementara Tulungagung berada dalam 10 daerah di Jawa Timur dengan angka kasus tertinggi. Kendati begitu, Tulungagung mampu menekan tingkat kematian di bawah 2 persen. Keberhasilan menekan angka kematian pasien COVID-19 tentu dibayar dengan kerja keras seluruh tenaga kesehatan dan pegawai RSUD dr. Iskak dengan ditopang oleh kapabilitas manajemen yang tangguh dan sarana serta prasarana medis yang memadai.

Fakta ini mengonfirmasi ketangguhan RSUD dr. Iskak yang tidak hanya mendapatkan pengakuan tingkat nasional, tapi juga internasional. Fakta lain yang patut diapresiasi, bahwa angka kesembuhan pasien infeksi SARSCoV-2 di Tulungagung juga sangat tinggi. Berdasarkan data 4 Juli, dari 239 kasus terkonfirmasi COVID-19, sebanyak 229 di antaranya atau 96,2 persen dinyatakan sembuh. Tingkat kesembuhan ini jauh lebih tinggi dibandingkan tingkat kesembuhan kasus/pasien COVID-19 di Jawa Timur yang per 4 Juli ada di posisi 36,3 persen (4.889 orang pasien sembuh) dari total 13.461 kasus terkonfirmasi.

Meski demikian, tidak dipungkiri bahwa di Tulungagung angka pasien dalam pengawasan (PDP) serta tingkat kematiannya tinggi. Masih berdasarkan data 4 Juli, terdapat 692 PDP dengan 200 penderita di antaranya (28,9 persen) meninggal dunia. “Dari jumlah tersebut, tinggal 29 orang yang masih dirawat sedangkan 473 orang lainnya telah sehat dan pulang,” ujar Wakil Juru Bicara Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Tulungagung Galih Nusantoro. Sama seperti penanganan terhadap pasien yang terkonfirmasi positif terjangkit COVID-19, pasien PDP yang mengalami gangguan kesehatan berat ditangani oleh RSUD dr. Iskak.

Terkait tingginya angka kematian PDP di Tulungagung, dr. Pri, panggilan akrab dr. Supriyanto Dharmoredjo yang juga Ketua Harian Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Tulungagung itu menjelaskan bahwa sebagian besar dari kasus kematian PDP masuk kategori nonpreventable death. Artinya, kematian-kematian tersebut terjadi dalam situasi dimana mereka secara medis tidak dapat ditangani. Dokter Pri menyatakan, bahwa RSUD Iskak sebagai rumah sakit rujukan utama untuk wilayah Tulugagung dan sekitarnya, baik untuk kasus yang berkaitan dengan COVID-19 atau tidak, maka RSUD dr. Iskak lebih banyak menangani pasien yang mengalami gangguan kesehatan parah.

“Karena yang ditangani di sini (RSUD Iskak) itu kasus parah. Larinya ke sini (pasien yang mengalami gangguan kesehatan berat),” jelasnya. “Rumah sakit rujukan pasti lebih tinggi tingkat kematiannya karena pasien dengan tingkat keparahan tinggi dibawa ke sini.” Dia kembali juga membeberkan sejumlah faktor yang menjadikan kasus-kasus kematian tersebut menjadi non preventable death. “Bisa dilihat dead on arrival-nya (kematian saat tiba di IGD/RSUD) berapa. (Berapa) dead on the roadnya (kematian saat perjalanan menuju RSUD)? Artinya apa? (Pasien) sampai di sini tinggal meninggalnya,” jelasnya.

Tingginya jumlah PDP itu, lanjut dia, merupakan implikasi langsung dari standar precaution yang tinggi yang diterapkan RSUD dr. Iskak dan Gugus Tugas COVID-19 Tulungagung.

DI PUSAT PENANGGULANGAN PANDEMI COVI D-19

Tak lama setelah Pemerintah Pusat membentuk Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 yang diketuai oleh Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo pada pekan kedua Maret 2020, pemerintah daerah pun segera menyusul dengan membentuk gugus tugas baik di tingkat provinsi maupun kabupaten dan kota. Struktur organisasi gugus tugas di tingkat daerah sempat mengalami sejumlah perubahan.

Terakhir, perubahan berkaitan dengan posisi ketua gugus tugas di daerah yang pegang oleh kepala daerah: gubernur; bupati; dan wali kota. Maka di Kabupaten Tulungagung, Bupati Maryoto Birowo pun menjabat sebagai Ketua Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19. Sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) terkait terlibat langsung dalam gugus tugas utamanya dinas kesehatan dan dinas sosial. Kepolisian Resort (Polres) Tulungagung, selain meningkatkan operasi kamtibmas, juga berperan penting dalam mendukung penegakan peraturan daerah yang dilakukan oleh Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) terkait penanggulangan pandemi dan penegakan protokol kesehatan di masyarakat.

Begitu juga dengan Komando Distrik Militer (Kodim) 0807 Tulungagung yang juga terlibat di berbagai lini penanggulangan dan menjaga kondisi sosial yang kondusif. Sementara Direktur RSUD dr. Iskak, dr Supriyanto Dharmoredjo, Sp.B, M.Kes sendiri ditunjuk sebagai Wakil Ketua atau Ketua Harian Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 di Tulungagung. Secara umum gugus tugas memang dibentuk tidak hanya menangani aspek kuratif dan pencegahan penyebaran COVID-19, namun juga menanggulangi dampak sosial dan ekonomi dari pandemi.

Namun, masalah medis tetaplah merupakan pusat masalah dari wabah COVID-19 ini, yaitu bagaimana mencegah penyebaran virus corona, yang ilmuan namai dengan SARS-CoV-2 itu, dan juga bagaimana upaya kuratif (curative) terhadap mereka yang terinfeksi virus atau diduga terinfeksi sementara vaksin atau anti virus belum berhasil diformulasikan. Sebagai rumah sakit rujukan di Tulungagung dan sekitarnya, RSUD dr. Iskak mengemban tugas yang penting, khususnya dalam aspek kuratif dalam penanggulangan pandemi COVID-19, tidak hanya di wilayah Tulungagung.

Pasien-pasien dengan tingkat kesakitan berat dari Pacitan, Blitar, Trenggalek dan Kediri bagian selatan akan dirujuk ke rumah sakit ini. Ibarat laga sepak bola, RSUD dr. Iskak menjadi semacam penjaga gawang. Ketika jumlah kasus terkonfirmasi semakin bertambah, begitu juga jumlah orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP) terus bertambah, maka tiga puskesmas ditunjuk sebagai fasilitas kesehatan yang turut membantu RSUD dr. Iskak dalam penanganan pasien.

Tiga puskesmas tersebut adalah Puskesmas Beji di Kecamatan Boyolangu, Puskesmas Bangunjaya di Kecamatan Pakel, dan Puskesmas Kalidawir di Kecamatan Kalidawir. Meski demikian, pasien dengan gangguan kesehatan berat, baik itu PDP atau pasien terkonfirmasi, tetap ditangani RSUD dr. Iskak. Hingga awal April, sejumlah rumah sakit swasta juga dilibatkan dalam penanganan COVID-19 di Tulungagung.

Sebanyak 12 rumah sakit swasta yang ada di Kabupaten Tulungagung itu diharapkan menjadi fasilitas kesehatan cadangan seandainya terjadi pertambahan jumlah pasien yang membutuhkan perawatan atau setidaknya membutuhkan ruang isolasi sementara ruang isolasi di RSUD Iskak dan tiga puskesmas tersebut telah penuh. “Rumah sakit swasta ini berada di lini kedua dalam penanganan kuratif pandemi COVID-19 Tulungagung,” ujar juru bicara Gugus Tugas COVID-19 Galih Nusantoro.

AKTIVASI EARLY WARNING SYSTEM (EWS)

RSUD dr. Iskak telah mengaktifkan “tombol” kewaspadaan COVID-19 hampir sebulan sebelum kasus pertama di Indonesia diumumkan oleh pemerintah pusat pada 3 Maret. Pada akhir pekan pertama Februari, RSUD dr. Iskak menerima pasien yang menunjukkan gejala-gejala yang patut dicurigai sebagai gejala COVID-19. Pasien perempuan dengan nama inisial YM tersebut adalah pasien rujukan dari sebuah rumah sakit di Kediri dan memiliki riwayat perjalanan dari Korea Selatan, salah satu negara yang telah terpapar COVID-19.

Meski YM kemudian dinyatakan negatif COVID-19 berdasarkan hasil tes PCR atas spesimen swabnya setelah hampir dua pekan dirawat di ruang isolasi RSUD dr. Iskak, namun hal ini mununjukkan peran RSUD dr. Iskak dalam menghadapi COVID-19 telah berlangsung sejak dini. Di Jawa Timur, RSUD dr. Iskak juga merupakan satu dari sedikit rumah sakit daerah di Jawa Timur yang ditetapkan oleh pemerintah sebagai rumah sakit rujukan COVID-19, khususnya di fasefase awal kewaspadaan. Pemerintah memang kemudian mengumumkan lebih banyak lagi rumah sakit rujukan di Jawa Timur namun hal itu terjadi lebih karena desakan keadaan ketika penyebaran virus corona semakin meluas.

Artinya, RSUD dr. Iskak memang sejak awal, bahkan sebelum COVID-19 berhasil diidentifikasi di Indonesia, memiliki fasilitas, peralatan medis, serta sumber daya manusia yang capable menghadapi penyakit infeksi emerging seperti halnya virus corona strain baru atau SARS- CoV-2 ini. Sebagai contoh, ketika sebagian besar rumah sakit belum memiliki ruang isolasi khusus, RSUD dr. Iskak telah memilikinya. Ruang isolasi ini bahkan kemudian dikembangkan dan ditambah lagi seiring bertambahnya jumlah kasus terkonfirmasi.

Hingga awal Juli RSUD dr Iskak telah mengembangkan 200 ruang isolasi, termasuk 9 ruang isolasi bertekanan negatif dengan ventilator dan 87 ruang bertekanan negatif tanpa ventilator.Dari sisi sumber daya manusia, RSUD dr. Iskak juga telah memiliki dokter spesialis paru, ahli mikrobiologi, serta dokter spesialis penyakit dalam yang memadai. Ketika penyebaran COVID-19 semakin meluas di Tulungagung, seluruh sumber daya yang dimiliki RSUD Iskak mulai dikerahkan, termasuk tenaga kesehatan dan beserta seluruh pegawainya.

Guna mengefektifkan penanganan pandemi di Tulungagung dan sekitarnya, laboratorium mikrobiologi RSUD dr. Iskak pun sejak pertengahan Juni lalu telah memiliki sendiri mesin tes PCR. Seluruh tenaga kesehatan dan pegawai RSUD dr. Iskak juga harus mencurahkan energi mereka dalam situasi darurat kesehatan. Bahkan, setelah lebih dari dua bulan bekerja ekstra, mereka masih tetap harus bekerja selama hari-hari libur Hari Raya Idul Fitri pertengahan Mei lalu.

Bekerja di tengah pandemi penyakit yang sangat mudah menular membuat tugas yang diemban seluruh pegawai RSUD dr. Iskak menjadi lebih berat khususnya mereka yang berhubungan langsung dengan pasien-pasien yang terkonfirmasi atau dicurigai terjangkit COVID-19. Prosedur kewaspadaan diterapkan berlapis-lapis bagi seluruh pegawai. Penggunaan alat pelindung diri (APD) menjadi keharusan. Mereka yang menangani langsung pasien-pasien yang terkait COVID-19 harus mengenakan APD lengkap mulai sepatu boot, baju hazmat, masker, kacamat gogle hingga pelindung wajah (face shield).

Belum lagi, mereka juga harus membatasi interaksi dengan lingkungan terkecilnya, termasuk anggota keluarga mereka. “Dalam menghadapi pandemi seperti ini, rumah sakit berada dalam pertaruhan besar agar tidak tergelincir dalam situasi dimana rumah sakit justru menjadi salah satu sumber penyebaran virus. Meski berat, prosedur yang ekstra ketat kami terapkan di RSUD dr. Iskak. Tes PCR maupun rapid test untuk pegawai dan tenaga kesehatan tertentu juga kami lakukan terus menerus secara berkala,” ujar dr. Supriyanto.

Sejumlah tenaga kesehatan baik perawat maupun dokter, akhirnya tertular juga. Sebagian besar dari mereka kemudian menjalani karantina di mess khusus atau asrama pegawai di kompleks rumah sakit. Dan setelah mereka terbukti bebas dari virus corona tersebut, mereka pun kembali bekerja. Berkat penanganan yang cepat dan tepat, resiko rumah sakit menjadi sumber penularan COVID-19 pun berhasil dihindarkan. Pengalaman dan pengetahuan manajemen RSUD dr. Iskak tentang konsep hospital without wall atau telemedicine, menambah kesiapan RSUD dr. Iskak dalam melakukan penyesuaian dengan situasi pandemi. Ditopang dengan adanya kemajuan teknologi komunikasi dan informasi, hospital without wall diharapkan mampu meminimalisir kunjungan pasien secara fisik ke rumah sakit tanpa harus mengurangi kualitas pelayanan kesehatan yang diberikan. (MaH)

0 Komentar

Alamat

Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo, Kedung Taman, Kedungwaru, Kec. Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur 66223

Telp. (0355) 320119