Ruang Bougenvile Jadi Kamar Isolasi Pasien COVID-19 dengan Keluhan ISPA

JAM menunjukkan pukul 12.00 siang, beberapa keluarga pasien menunggu di depan kantor Ruang Rawat Inap Bougenvile, yang bersebelahan dengan ruang rawat inap Sedap Malam. Sudah dua bulan ini atau saat wabah COVID-19 gelombang kedua melanda, ruangan Bougenvile menjadi kamar isolasi bagi pasien COVID-19.

Keluarga pasien ingin mengetahui kondisi pasien yang dirawat di ruang isolasi. Keluarga pasien tidak diizinkan ikut menemani pasien di dalam ruangan karena untuk mencegah penularan virus Korona.

Ruang rawat inap Bougenvile sebelum difungsikan sebagai ruang isolasi COVID-19 adalah ruang perawatan untuk pasien dengan penyakit saraf, jantung, neurologi kemoterapi dan ruang perawatan High Care Unit. Untuk saat ini pasien saraf dan jantung yang non-COVID-19 dirawat di gedung baru, Graha Mandiri lantai 3, 4 dan 5.

Kembali lagi ke ruang Bougenvile yang menjadi kamar isolasi pasien COVID-19. Kepala Ruang Rawat Inap Bougenvile RSUD dr. Iskak Wahrudianto, S.Kep. Ners, keluar dari kantor ruang Bougenvile dengan membawa kertas yang berisi daftar nama pasien dan catatan perkembangan perawatan.

Rudi sapaan akrab Wahrudianto menjelaskan satu per satu kondisi pasien, misalnya seorang pasien menunjukkan progres yang bagus yakni sudah mulai melepas alat oksigen. Ia juga memberikan semangat kepada keluarga pasien.

”Jangan sampai menyerah ya Bu, kita harus percaya pasien bisa negatif COVID-19 dan sembuh kembali,” kata Rudi kepada salah satu keluarga pasien.

Ruang rawat inap Bougenvile juga memiliki hotline yang bisa diakses oleh keluarga pasien. Nomor hotline ditempel di depan kantor ruangan.

Rudi menjelaskan, keluarga pasien juga harus memberikan nomor yang bisa dihubungi kepada petugas. Tujuannya, jika sewaktu-waktu pasien mengalami penurunan kondisi, petugas bisa menghubungi keluarga pasien.

Saat ini ruang rawat inap Bougenvile memiliki;

  • 13 tempat tidur untuk pasien positif COVID-19, fasilitas tempat tidur, oksigen dan lain sebagainya.
  • 8 tempat tidur untuk pasien yang transit, yakni menunggu swab PCR yang kedua serta ada keluhan ISPA (Infeksi Saluran Pernafasab Akut).
  • 8 tempat tidur untuk pasien yang intensif, yakni  menunggu swab PCR yang kedua dengan keluhan ISPA yang berat, fasilitasnya berupa oksigen dan patient monitor (alat untuk mengukur saturasi oksigen dalam darah dan denyut nadi) untuk pasien di tempat tidur.

Untuk alur masuk pasien yang dirawat di ruang Bougenvile, yaitu pasien menjalani screening kesehatan di IGD (Instalasi Gawat Darurat), setelah itu tes swab PCR (Polymerase Chain Reaction). Jika positif dengan keluhan ISPA, maka pasien akan dirawat di ruangan ini.

Semua pasien COVID-19 di ruang Bougenvile dirawat oleh 32 nakes (tenaga kesehatan) yang terdiri dari 30 perawat, 1 asisten perawat, dan 1 admin. Untuk dokter yang bertugas, terdapat dokter spesialis paru, dokter umum, dan dokter umum.

Rudi menceritakan, perjuangan perawat sungguh luar biasa. Mereka harus memakai APD (Alat Pelindung Diri) level 3, yakni baju hazmat, masker bedah, masker N95, face shield, sarung tangan, kacamata Google, dan sepatu boots.

Saat pagi, rutinitas perawat didominasi dengan membantu mengganti popok pasien, mengganti pakaian, mengganti botol infus, dan lain sebagainya. Saat shift pagi, perawat yang bekerja terdapat 6 – 7 personil, sedangkan sore dan malam terdapat 5 personil.

”Jika kebutuhan pasien menipis, seperti popok, ya kami kontak keluarga pasien,” tutur Rudi.

Saat ditanya kendala yang dihadapi di ruang Bougenvile, Rudi mengatakan hampir semuanya berjalan lancar. Terkadang masih ada nomor handphone keluarga pasien yang tak bisa dihubungi, namun masalah itu terpecahkan dengan keluarga datang sendiri ke Bougenvile.

Rudi juga menceritakan, tidak ada keluarga yang ngotot menemani pasien di dalam kamar, karena sudah mendapatkan edukasi yang gamblang dari petugas tentang bahaya virus COVID-19. Rata-rata pasien yang dirawat di Bougenvile membutuhkan waktu minimal 10 hari baru boleh pulang, tentunya sudah swab PCR dua kali dengan hasil negatif. Jika hasil PCR positif, namun sudah tidak ada keluhan, maka bisa menjalani isolasi mandiri di rumah. (PKRS/MAS)

Berita Terkait

Berita Terbaru

Polling

Apakah website ini bermanfaat untuk Anda?