Terlalu Lama Duduk Depan Komputer Bisa Picu Nyeri Leher

Terlalu Lama Duduk Depan Komputer Bisa Picu Nyeri Leher

Di era revolusi industri 4.0 yang serba digital ini, banyak orang disibukkan dengan beragam aktivitas keseharian yang sangat bergantung dengan teknologi. Perangkat smartphone, komputer dan sejenisnya menjadi salah satu kebutuhan tak terhindarkan. Baik itu untuk kepentingan pekerjaan, pendidikan maupun aktivitas penting lainnya. Akan tetapi tahukah anda, ternyata dalam beberapa kasuistik, perkembangan digital memiliki efek negatif yang dapat memicu masalah kesehatan tubuh.

Salah satu yang kerap terekam dalam data medis di Poli Rehabilitasi Medik RSUD dr Iskak adalah masalah nyeri punggung atau ‘boyoken’ yang dipicu oleh kebiasaan duduk berjam-jam di depan komputer, dan/atau bermain gadget. Nyeri punggung atau boyoken ini sebenarnya disebabkan jaringan saraf otot terganggu. Gejalanya seperti merasakan sakit nyeri leher, nyeri di pergelangan tangan, bahu dan nyeri punggung. Tentu hal ini sangat tidak di inginkan oleh semua orang.

Dokter Spesialis Kedokteran Fisik dan Rehabilitasi RSUD dr. Iskak Tulungagung, dr. Wahyu Sita Wardani, Sp. KFR mengupas masalah nyeri punggung atau dalam Jawa dikenal dengan istilah boyoken. Masalah kesehatan terjadi dikarenakan, kebanyakan orang tidak lagi memerhatikan tata cara pada pengunaan perangkat komputer atau gadget yang baik sesuai dengan peruntukannya.

“Kesalahan mereka lakukan biasanya terlalu lama membungkukkan badan, menunduk, Mermain gadget pada posisi yang salah, dan berlangsung selama beberapa jam. Jika terjadi hal itu bisa menyebabkan ketegangan pada otot leher. Kondisi itulah yang menyebabkan sakit leher atau bagian tubuh lainnya,” katanya.

Menurut dia, dr. Wahyu Sita, kebanyakan orang tidak menyadari bahwa seringkali melakukan kesalahan saat mengambil posisi duduknya, karena berlangsung berjam-jam hingga menimbulkan ketegangan pada otot.
“Terutama pada pekerja yang kesehariannya menghadap komputer. Mereka begitu sibuknya sampai lupa mengatur posisi duduk yang benar dan tidak didirasakan. Tahu tahu muncul rasa nyeri pada bagian tertentu di sekitar punggung atau di area atas tulang ekor,” katanya.

Faktor risiko nyeri punggung bisa terjadi pada kelompok usia produktif, baik pada laki laki dan perempuan. Hal ini mengacu mayoritas pasien yang datang ke Poli Rehabilitai Medik RSUD dr Iskak ada di rentang usia 20 tahun sampai 40 tahun. Kelompok usia ini rentan alami nyeri punggung karena lebih aktif bergerak dan sering melakukan aktivitas yang berlebihan. Selain itu, usia produktif cenderung beraktivitas dengan posisi pasif. Misalnya, duduk di depan komputer berdurasi lama.

“Kedua posisi itu dapat memicu otot menjadi tegang. Sebenarnya sebelum mereka merasakan sakit nyeri pasti ada gejalanya. Namun mereka tidak menghiraukan. Mereka lalai dan akhirnya otot tegang sampai timbul rasa nyeri,” terang dr. Wahyu Sita.

Sementara kalau perempuan, kelompok usia 40 tahun ke atas lebih berisiko dibandingkan usia produktif. Penyebabnya, perempuan pada usia tersebut mendekati fase menopause, dan berkurangnya sistem pertahanan pada pengeroposan tulang sudah tidak ada (estrogen). “Estrogen yang berfungsi membantu mencegah pengeroposan tulang dan mencegah terjadinya osteoporosis sudah tidak ada lagi. Terlebih jika wanita sudah berhenti masa menstruasi, biasanya pengeroposan tulang lebih cepat,”katanya.

Poli Rehabilitasi Medik RSUD Iskak selama ini kerap menangani pasien dengan keluhan nyeri punggung ini. Minimal pasien datang dalam sehari sedikitnya 30 orang. “Persentasenya mencapai 60 persen pasien yang berobat, kasusnya nyeri leher, nyeri punggung, nyeri pergelangan tangan dan nyeri bahu, belum lagi nyeri akibat kecelakaan,” jelasnya.

Dalam artikel sebelumnya dengan tema sama, dr. Sita pernah memberikan tips cara sederhana untuk menghilangkan keluhan nyeri pada punggung, leher dan lainnya, adalah dengan melakukan gerakan peregangan ringan atau dengan gerakan relaksasi supaya segera membaik. Relaksasi itu dapat memanjakan otot yang mengalami ketegangan. Jika rasa nyeri berkurang disarankan untuk menunda aktivitas berlebihan terlebih dahulu agar otot tidak kembali kaku.

Berikutnya, cara lain yang bisa dilakukan adalah dengan mengompres menggunakan air dingin di area yang sakit selama 15-20 menit.
Tindakan ini sebaiknya dilakukan secara berulang. “Karena mengompres sebagai terapi pun sebenarnya ada dosisnya. Jadi harus minimal 3 – 4 kali per hari, selama 15 – 20 menit, dan tidak boleh menempel langsung di kulit, harus ada kain sebagai alas,” papar dr. Sita.

Jika dirasa nyeri mulai berkurang, sebaiknya pasien yang sedang masa pemulihan tidak istirahat berlebihan dahulu, karena dapat membuat otot punggung kembali kaku. Supaya proses segera membaik, lakukan pula gerakan gerakan olahraga ringan. Misalnya dengan meregangkan bagian otot leher dengan posisi duduk, ataupun dengan gerakan cobra stretch berbaring dengan posisi tengkurap dan kepala serta punggung diangkat ke atas seperti posisi ular cobra.

“Latihan peregangan ini bisa memberikan sensasi relaksasi yang dapat meredakan sakit punggung ringan. Namun jika tidak ada perubahan apapun dalam beberapa hari kami memberikan saran supaya untuk diperiksakan ke dokter ahlinya saja,” katanya.

Dr. Wahyu Sita mengimbau agar kasus nyeri atau nyeri punggung tidak disepelekan. Terutama nyeri pada leher, punggung, bahu dan pergelangan tangan “Gejala nyeri pada bagian ini harus segera mendapatkan pertolongan untuk meminimalkan risiko saraf terjepit,” katanya.

“Jika syaraf terjepit pada tingkatan extrim sangat berisiko pada kecacatan permanen. Tetap bisa disembuhkan akan tetapi membutuhkan banyak waktu dan biaya sesuai dengan kondisi pasien,” katanya.
(PKRS)

0 Komentar

Alamat

Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo, Kedung Taman, Kedungwaru, Kec. Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur 66223

Telp. (0355) 320119