Butuh panggilan darurat medis dan non-medis? Call PSC kabupaten Tulungagung di 0355-320119 atau gunakan aplikasi PSC 119 Kabupaten Tulungagung, download di sini

VAKSINASI: Apa itu Vaksin dan Bagaimana Cara kerjanya Membentuk Antibodi Tubuh

VAKSINASI: Apa itu Vaksin dan Bagaimana Cara kerjanya Membentuk Antibodi Tubuh

GERAKAN vaksinasi COVID-19 yang sekarang ini tengah persiapkan pemerintah menjadi secercah harapan baru bagi masyarakat untuk segera keluar dari bayang-bayang pandemi SARS-CoV-2 yang melumpuhkan banyak sendi kehidupan, setahun belakangan. Optimisme menyeruak. Namun dibalik harapan yan harus bertumbuh itu, tak sedikit masyarakat yang masih awam tentang apa itu vaksinasi, dan seberapa efektif vaksin ini dalam menghindarkan seseorang dari ancaman virus corona baru ini.

Dokter Spesialis Penyakit Dalam RSUD dr. Iskak, dr. Moh. Jasin Jahja, Sp.PD menjelaskan, vaksinasi merupakan prosedur medis yang dilakukan untuk menimbulkan sistem kekebalan alami dalam tubuh.  Cara yang lazim digunakan adalah dengan menginjeksikan serum berisi virus atau bakteri yang telah dilemahkan, ke dalam tubuh penerima vaksin.

“Vaksin ini kan produk biologi yang mengandung antigen, yang apabila diberikan kepada seseorang akan memberikan kekebalan alami secara sesifik,” jelasnya saat menjadi narsumber dialog interaktif program edukasi kesehatan yang digelar tim Promosi Kesehatan Rumah Saskit (PKRS) RSUD dr. Iskak dengan tema bahasan “Vaksin dalam Menghadapi COVID-19” di studio RSUD dr. Iskak, Jumat (8/1/21).

Di Indonesia, lanjut dia, tindakan vaksinasi sudah cukup populer dan menjadi program nasional dalam upaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Terutama di kelompok bidang layanan kesehatan pediatrik, seperti (vaksinasi hepatitis-B, BCG untuk mencegah penyakit TBC, DTT, polio dan sebagainya).

Vaksinasi itu banyak diberikan terutama untuk bayi atau balita, anak-anak bahkan hingga kelompok orang dewasa. Misal vaksin miningitis, influenza dan terakhir yang kini sedang trending topic terutama adalah vaksinasi COVID-19.

Soal seberapa efektif vaksinasi ini dalam membentuk kekebalan atau sistem antibodi  pada orang yang menerima vaksin, Dokter Jasin merujuk data dan fakta bahwa berbagai program nasional terkait vaksinasi sampai saat ini masih terus berjalan. Itu artinya, program ini dinilai efektif dalam menekan angka kesakitan pada masyarakat.

“Dalam banyak kasus, sejauh ini vaksin efektif dan cukup teruji dalam meningkatkan sistem kekebalan tubuh manusia terhadap penyakit. Hal ini dibuktikan dengan pelaksanaan program-program vaksinasi yang masih berjalan,” kata dr. Jasin.

Tingginya angka risiko kematian pada kasus COVID-19 lah yang kemudian mendorong dilakukannya upaya pencegahan penyakit melalui metode vaksinasi. Sebab dengan membangun sistem antibodi alami dari dalam tubuh pasien sendirilah, diharapkan nantinya bisa menekan morbiditas penyakit corona baru ini. “Mudah-mudahan angka kematiannya bisa ditekan, kemudian angka kesakitannya juga bisa diturunkan,” ujarnya.

Jasin menjelaskan, karena saat ini varian dan gejala yang sudah bermacam-macam itu, maka penegakan diagnosis untuk pasien suspect COVID-19 sekarang juga ikut berubah.

Jika di awal pandemi, pasien dikatakan positif COVID-19 hanya apabila hasil tes usap atau swab test PCR-nya menunjukkan positif. Tapi sekarang (diagnosis) berkembang lebih dini lagi, lebih cepat lagi, dengan metode rapid antigen atau test swab antigen.

Jadi jika hasil rapid antigen positif dengan disertai gejala seperti batuk, pilek disertai demam dan apabila ada sesak ataupun varian gejala ikutan lain, maka yang bersangkutan wajib dilakukan swab test PCR untuk memastikan ada/tidaknya paparan COVID-19.

Sedangkan apabila rapid antigen positif tanpa disertai gejala, namun tinggal atau beraktivitas di lingkungan yang tergolong tinggi angka kejadiannya (atau punya hubungan atau kontak erat dengan orang yang terpapar COVID-19), maka yang bersangkutan wajib pula menjalani swab test PCR karena masuk kelompok risiko tinggi tertular SARS-CoV-2.

“Kalau sudah punya riwayat itu maka harus ditelusuri, dilakukan isolasi atau karantina lebih dulu, sampai ada kesimpulan atau diagnosis pasti seseorang itu positif atau negatif COVID-19,” katanya. Namun, Jasin mengingatkan bahwa di samping vaksinasi, pencegahan paling utama tetaplah protokol kesehatan. Mencuci tangan, memakai masker dan menjaga jarak. “Ingat ya, harus tetap istiqomah 3M,” pesannya. (PKRS/MDS)

0 Komentar

Alamat

Jl. Dr. Wahidin Sudiro Husodo, Kedung Taman, Kedungwaru, Kec. Kedungwaru, Kabupaten Tulungagung, Jawa Timur 66223

Telp. (0355) 320119